UKM Jadi Indikator Ekonomi Masyarakat, Laura Dorong Produk Berdaya Saing 

0
42

Nunukan (BERANDATIMUR.COM) – Usaha kecil dan menengah (UKM) dinilai telah menjadi indikator tumbuh dan kembangnya ekonomi masyarakat maka dibutuhkan produk yang makin berdaya saing guna menembus pasar, jelas Bupati Nunukan Kalimantan Utara, Asmin Laura Hafid di Nunukan, Rabu, 16 Oktober 2019.

Menurut dia, geliat perekonomian berbasis masyarakat terlihat dari semakin tumbuhnya UMKM. Oleh karena itu, Laura berjanji, akan terus mendorong munculnya UKM-UKM yang berdaya saing di daerahnya.

Hal ini diutarakan sekaitan dengan Forum grup discussion (FGD) yang digelar bersama dengan pelaku-pelaku UMKM di PARAS Perbatasan yang menghadirkan Founder Karya Perempuan Indonesia, Irma Sustika, sebagai narasumber.

Laura mengatakan, pembangunan PARAS Perbatasan adalah wujud komitmen pemerintah dalam memfasilitasi UKM khusunya UKM kuliner untuk mengembangkan diri.

Ia mengaku masih banyak kendala dan hambatan yang ditemui dalam pengembangan UKM selama ini, mulai dari legalitas, pengemasan, hingga manajemen yang masih tradisional.

Peningkatan Kualitas Produk UKM
Bupati Nunukan Asmin Laura Hafid (kiri) bersama Irma Sustika, Founder Karya Perempuan Indonesia (kanan) di PARAS Perbatasan

Untuk itu, Laura berharap FGD tersebut melahirkan format dam rekomendasi dalam pengembangan UKM dalam jangka panjang.

“Saya berharap tidak ada ego sektoral, kita harus bersama-sama dalam mengembangkan UKM ini,” kata Bupati Nunukan ini.

Secara terpisah, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Nunukan H Abdul Karim menyatakan daerahnya adalah tempat yang tepat untuk investasi karena hampir semua sektor memiliki potensi yang luar biasa.

PDRB Nunukan juga relatif besar mencapai kurang lebih Rp19 miliar.

Menurut dia, UMKM adalah embrio dari wirausaha yang lebih besar sehingga harus ada sinergi dengan berbagai pihak secara terus menerus.

Ia mencatat Kabupaten Nunukan memiliki 2.535 UMKM namun masih menghadapi berbagai kendala, antara lain minimnya modal dan inovasi, kurang memanfaatkan pemasaran online, tidak ada brand yang kuat, legalitas usaha yang belum ada, serta pembukuan yang masih manual.

Keberadaan PARAS Perbatasan diharapkan, pelaku UMKM lebih bersemangat lagi dalam memacu diri meningkatkan kualitas produknya.

Pasar tradisional ini tentunya berorientasi pada pengembangan UMKM di daerah itu sebagai salah satu wadah memasarkan produknya.

PARAS Perbatasan yang menelan dana sebesar Rp2 miliar lebih ini dibangun  tanpa mengganggu APBD Kabupaten Nunukan. Sebab pendanaannya diperoleh dari Coorporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan-perusahaan. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here