Kasus SMP Muhammadiyah Nunukan
Ketua PD Muhammadiyah Nunukan, Halisa (kanan), Kepsek SMP Muhammadiyah Nunukan, Siti Hatijah (tengah) dan Waka Kurikulum Rismah (kiri) saat klarifilasi pemberitaan soal pemberhentian Muhammad Sulham di ruang guru SMP Muhammadiyah Nunukan, Sabtu (5/10).

Nunukan (BERANDATIMUR.COM) – Pengurus Daerah Muhammadiyah Nunukan Kalimantan Utara turun tangan terkait kasus pemberhentian siswa di SMP Muhammadiyah dengan melakukan klarifikasi secara rinci.

Sebagaimana yang diutarakan Ketua PD Muhammadiyah Nunukan, Halisa didampingi Sekretarisnya Kaharuddin di Nunukan menjelaskan, perihal kasus pemberhentian yang dialamatkan kepada siswa bernama Muhammad Sulham telah ditindaklanjuti melalui rapat internal pengurus dan pihak sekolah.

Dalam rapat tersebut terungkap secara detail alasan Kepala SMP Muhammadiyah Nunukan memberikan tindakan tegas kepada anak bersangkutan.

Kaharuddin mengatakan, siswa ini diberhentikan tidak benar karena alasan tidak melunasi infaq selama tiga bulan (Juli-September 2019). Sebab ada siswa lain juga yang belum melunasi infaq tetapi tetap diberi kesempatan mengikuti ujian tengah semester.

Oleh karena iti, dia tegaskan, tidak ada niat dari SMP Muhammadiyah Nunukan sengaja “mematikan” masa depan anak ini dengan memberhentikan dari sekolah itu secara sepihak.

Namun alasan memberhentikan Muhammad Sulham yang telah duduk di Kelas IX semata-mata anak ini telah beberapa kali melakukan pelanggaran indisipliner yang sulit ditolerir.

Dimana pihak SMP Muhammadiyah harus mengantisipasi agar prilaku anak bersangkutan tidak menjalar kepada teman-temannya.

Ia juga menganggap bahwa, seorang anak seyogyanya mematuhi segala aturan yang berlaku selama dalam lingkungan sekolah. Tentunya atas bantuan orangtua siswa memberikan didikan kepada anaknya agar rajin mengikuti pelajaran dan tidak melakukan pelanggaran dalam lingkungan sekolah ini.

Bahkan kata Kaharuddin yang diamini Kepala SMP Muhammadiyah Nunukan, Siti Hatijah bahwa beberapa kali diberikan surat teguran kepada Muhammad Sulham melalui orangtuanya tetapi tidak direspon dengan baik.

Untuk itu, pihak sekolah menilai tidak mampu lagi membina anak ini meskipun telah dilakukan berbagai upaya salah satunya dengan memanggil orangtuanya menghadap pimpinan sekolah itu.

“Informasi yang kami peroleh dari pihak sekolah bahwa anak ini tidak bisa dibina lagi. Karena telah beberapa melakukan pelanggaran yang sulit ditolerir. Pihak sekolah pun telah melayangkan surat panggilan kepada orangtuanya tapi orangtuanya kurang meresponnya,” ungkap Kaharuddin di ruang guru SMP Muhammadiyah Nunukan, Sabtu, 5 Oktober 2019.

Sekretaris PD Muhammadiyah Nunukan ini menegaskan, sesuai informasi dari kepala sekolah dan tenaga guru pemberhentian Muhammad Sulham bukan disebabkan tidak melunasi pembayaran infaq.

Tetapi semata-mata prilaku anak bersangkutan yang tidak mematuhi tata tertib sekolah saja.

SMP Muhammadiyah kata dia, komitmen mencerdaskan anak didik dengan memberikan pembinaan secara adil dan menyeluruh. Bahkan sekolah ini dikenal banyak menampung anak-anak dari kalangan orangtua kurang mampu.

Sedangkan Halisa menyatakan, SMP Muhammadiyah yang berada dalam binaan PD Muhammadiyah tentunya berkewenangan menberikan sistim pembelajaran kepada anak didik dengan maksimal.

Termasuk “turun tangan” menengahi apabila ada permasalahan yang dihadapi oleh siswa, orangtua maupun tenaga gurunya.

Menyinggung soal tudingan nada-nada ancaman dalam pengumuman bagi siswa yang tidak melunasi pembayaran infaq itu sebenarnya tidak ada tendensi lain.

Tetapi semata-mata memberikan penekanan karena pengalamannya selama ini apabila tidak melakukan hal seperti itu banyak orangtua siswa yang ogah-ogahan membayar.

Padahal besaran pembayaran infaq telah disepakati oleh semua orangtua siswa dengan melibatkan komite sekolah melalui rapat.

Halisa juga mengaku pihak sekolah juga telah memangil orangtua anak tersebut agar dicarikan sekolah untuk melanjutkan pendidikan. SMP Muhammadiyah bersedia memberikan surat keterangan pindah.

Hanya saja orangtua anak ini tidak meresponnya padahal pihak sekolah berupaya agar tetap melanjutkan pendidikannya, ujar Halisa.

Sementara itu Wakil Kepala SMP Muhammadiyah bidang kurikulum, Rismah menjelaskan secara rinci pelanggaran yang telah dilakukan Muhammad Sulham yang berujung dengan pemberhentian.

Pelanggaran yang dilakukan Muhammad Sulham selama ini sesuai catatan pihak sekolah adalah sering bolos pada jam pelajaran. Meninggalkan lingkungan sekolah membeli rokok.

Selanjutnya anak ini, pernah kedapatan masuk ruang laboratorium dengan lompat melalui jendela dengan membawa obat komix yang biasa digunakan mabuk-mabukan oleh anak remaja.

Selain itu, kata Rismah, anak tersebut pernah juga ditemukan merusak fasilitas sekolah di luar jam pelajaran. Dimana anak ini masuk lingkungan sekolah dengan masuk ruangan merusak jendela kelas.

Bukan hanya itu, tambah dia, pernah juga ditangani oleh sekolah karena berkelahi dengan teman-temannya.

Dasar inilah yang dianggap tidak mampu dibina lagi maka solusi terbaik adalah dengan mengembalikan kepada orangtuanya. (***)

Catatan: Hasil rapat internal PD Muhammadiyah Nunukan dengan SMP Muhammadiyah ternyata ada aspek lain yang menyebabkan Muhammad Sulham diberhentikan dari sekolahnya.

Pengakuan kepala sekolah dan tenaga guru yang lain tidak sanggup lagi membina karena prilakunya tidak mengalami perubahan selama itu.

Meskipun telah dilakukan pemanggilan orangtuanya oleh pihak sekolah sekaitan dengan prilaku Muhammad Sulham yang tak kunjung berubah.

Sehubungan dengan berbagai pelanggaran yang sulit ditolerir itulah sehingga pihak sekolah dengan terpaksa mengembalikan kepada orangtuanya.

SMP Muhammadiyah mengaku selalu berkomitmen memberikan pelajaran dengan baik dan melakukan pembinaan kepada anak didik tanpa pandang bulu.

1 KOMENTAR

  1. Klo guru tdk ada kata tdk bisa membina siswa.anak didik memang beragam karakter.jangan jadi guru klo tdk mampu membina.anak nakal itulah resiko jadi guru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here