Terkait Bayi Diduga Korban Malpraktek, Ini Pernyataan RSUD Nunukan

NUNUKAN (berandatimur.com) – Kasus dugaan korban malpraktek terhadap bayi bernama Yubal yang menyebabkan kematian diklarifikasi RSUD Nunukan Kalimantan Utara.

Berdasarkan hasil klarifikasi yang dihadiri Direktur RSUD Nunukan Dr Dulman dan tenaga dokter yang menangani korban di ruang pertemuan RSUD Nunukan, Jumat (28/12).

Dulman dalam keterangannya mengatakan, tindakan yang ditempuh oleh dokter terhadap pasien bernama Yubal telah sesuai dengan SOP (standar opetasional prosedur).

Yaitu penanganan awal melalui dokter UGD (unit gawat darurat) pada saat masuk di RSUD Nunukan pada Jumat (21/12) sekira pukul 07.30 wita.

Setelah dilakukan diagnosa, kata dia, bayi anak dari Silvester Da Costa yang bekerja di PT KHL Kecamatan Tulon Onsoi ini ternyata mengalami infeksi paru-paru akut ditandai dengan rintihan secara terus menerus.

Akibat kondisi bayi yang baru berusia tiga bulan 21 hari ini akhirnya dilakukan tindakan medis selanjutnya agar secepatnya dapat tertolong.

Kronologis penanganan korban ini, pihak RSUD Nunukan menceritakan saat masuk di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dalam kondisi sesak napas berat karena merintih secara terus menerus.

Pada saat dilakukan pemeriksaan didapatkan frekuensi napasnya sebanyak 90 kali dalam satu menit. Padahal normalnya bagi seorang bayi tidak boleh melebihi 40 kali dalam.semenit.

Selanjutnya, hasil pemeriksaan lain didapatkan matanya dalam keadaan cekung, tingkat kelenturan kulit keriput yang menandakan pasien telah mengalami dehidrasi berat.

Dulman menambahkan, urat nadi sulit teraba dan kadar oksigen dalam darah (dilihat dari saturasi O2) tidak terbaca.

Bayi bernama Yubal usia tiga bulan 21 hari yang meninggal pasca bedah akibat infeksi paru-paru akut dan dehidrasi di RSUD Nunukan 21 Desember 2018

Berhubung kondisinya seperti itu, maka dokter di RSUD Nunukan melakukan tindakan cepat dengan berusaha memasang oksigen dan infus untuk jalur masuk cairan.

Terutama upaya memasukkan antibiotik untuk menangani infeksinya. Namun ketika dicoba memasang infus di tangan kanan dan kiri serta kaki kanan dan kiri hingga kepala tetap tidak bisa.

Sekaitan dengan masalah tersebut, maka dokter jaga berkonsultasi dengan dokter spesialis anak selanjutnya konsultasi dengan dokter bedah.

“Dokter bedah setelah dikonsul dokter spesialis anak merencanakan pemasangan infus dengan membuka lapisan kulit sampai ke jaringan di bawahnya untuk menemukan pembuluh darah,” sebut Dulman didampingi dokter spesialis anak, Dr Soleh,SpA dan dokter UGD, dokter anastesi dan dokter bedah.

Mengingat pasien masih bayi maka pemasangan selang infus lebih tepat di pangkal paha sebagai antisipasi resiko berat.

Sebelum dilakukan pembelahan pada pangkal paha, dokter bedah telah meminta persetujuan orangtuanya.

“Pada saat diberikan pemahaman orangtuanya menyetujui dilakukan pembelahan pada pangkal paha anaknya,” sebut dia.

Setelah selesai pemasangan infus di pangkal paha, kata Dulman, pasien segera dimasukkan ke ICU karena sesak nafas yang berat sehingga perlu pemantauan intensif.

Pada sore harinya, dilakukan pemeriksaan lagi oleh dokter spesialis anak diputuskan dimasukkan dalam intubasi.

Namun masih dalam.perawatan dokter, bayi ini dinyatakan meninggal dunia sekira pukul 16.30 wita pada hari yang sama.
Ternyata, bayi ini telah mengalami sakit sejak masih berada di Kecamatan Tulin Onsoi akibat kondisi lingkungan tempat tinggalnya.

Selama itu, bayi ini tidak pernah dirawat secara medis.

Mengenai tudingan keluarganya bahwa telah terjadi malpraktek sangat tidak benar. Begitu pula bahwa bayi ini menangis sebenarnya bukan tetapi merintih (usaha nafas dengan melibatkan secara maksimal kerja dinding dada dan paru-paru) akibat dari sesak nafas berat.

Jadi kesimpulan tim medis yang menanganinya di RSUD Nunukan penyebab meninggalnya bayi bernama Yubal ini adalah sepsis berat yaitu terjadi infeksi pada seluruh organ dalam tubuh.(***)

Editor: M Rusman

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here