Nunukan (BERANDATIMUR.COM) – Aparat kepolisian maritim zona Tawau mengamankan seorang warga negara Indonesia (WNI) karena kedapatan membawa peralatan judi diduga kuat akan dibawa ke Pulau Sebatik Indonesia.

Mesin permainan judi “wukong” diangkut menggunakan perahu warna biru dan ditutup dengan terpal warna orange. Dalam perjalanan menuju Sungai Melayu dicegat oleh Polisi Maritim Zona Tawau.

Juragan kapal tersebut tidak bisa berkutik lagi ketika barang yang diangkut digeledah dan ternyata membawa mesin permainan judi “wukong”.

Dikutip dari BesFM Tawau, Jumat dijelaskan, WNI yang diamankan tersebut saat hendak memasuki wilayah Sebatik Malaysia menggunakan perahu bermesin yang mengangkut tiga buah mesin permainan judi ‘Wukong’ tanpa dilengkapi dokumen yang sah.

Pengarah ZonaMaritim Tawau, Komander Maritim Mohd Yusri Hussin, WNI berjenis kelamin pria berusia 50 tahun ditahan saat menuju Sungai Melayu, Pulau Sebatik dari Pelabuhan Tawau pada Kamis (10/10) sekira pukul 08.00 wita.

Aparat kepolisian negara itu menyita ketiga mesin permainan judi dan perahu yang digunakan WNI tersebut untuk dilakukan proses selanjutnya.

Akibat tindakan pelanggaran yang dilakukan WNI ini mengalami kerugian diperkirakan mencapai 56.000 ringgit Malaysia atau Rp190.100.000 (kurs Rp3.400).

Mohd Yusri menegaskan, WNI ini melanggar Akta Imigresen 1959/63 dan Enakmen Pelabuhan dan Dermaga Sabah 2002.

Juragan tanpa disebutkan identitasnya ini ditahan bersama barang buktinya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Catatan: Polisi Maritim Malaysia Zona Tawau rutin menggelar patroli di perairan perbatasan Indonesia-Malaysia.

Beberapa kali berhasil menggagalkan penyelundupan produk Malaysia ke Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara.

Baik berupa bahan makanan dan minuman, tabung gas bersubaidi maupan barang-barang larangan lainnya.

Namun tidak semua juga yang ditangkap. Buktinya penyelundupan dalam jumlah besar seperti karpet, pakaian bekas, gula, tepung dan alat kendaraan tidak pernah ditangkap.

Mungkinkan pengaturan atau “permainan mata” juga berlaku bagi aparat terkait di negeri jiran kita?

Sepertinya tidak jauh beda dengan tipikal aparat di negeri sanaeee…walaupun menyenggol kelopak matanya pura-pura tak melihatnya.

Diduga kuat telah mendapatkan upetinya sehingga berat hati untuk menangkapnya dengan berbagai alasan yang kadangkala tak masuk akal.

Alasan klasik seringkali dilontarkan oleh aparat atau petugas dari instansi terkait bahwa kebutuhan masyarakat perbatasan. Atau berkilah menjunjung tinggi kearifan lokal.

Kearifan lokal inilah yang dijadikan tameng bagi aparat atau petugas yang dimanfaatkan oleh pelaku penyelundupan untuk memuluskan aksinya.

Bahkan ada diantaranya melakukan pembohongan dengan spekulasi data memanfaatkan celah dari PP 34 Tahun 2019 dengan pura-pura mengumpulkan fotocopi KTP warga perbatasan.

Padahal hanya untuk menghindari pembayaran pajak semata. Tingkah dan ulah aparat, petugas dan pengusaha ini telah banyak merugikan negara demi kepentingan pribadinya.

Sementara aparat dan petugas sok tegas dengan aturan yang berlaku….(***)

Editor: M Rusman

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here