Saatnya Milenial Kembali Pada Khithah Jati Diri Bangsa

Oleh: Hj Asmin Laura Hafid SE, MM *

Berbicara semangat Pancasila dari awal mula dicetuskannya, tidak bisa dilepaskan dari sosok putra terbaik Bangsa Indonesia yakni Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno.

Bersama teman seperjuangannya kala itu, mulai merumuskan sila-sila Pancasila dalam berbagai diskusi panjang. Akhirnya disepakati lima dasar landasan berbangsa dan bernegara yang disampaikan dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 29 Mei 2020 sampai dengan 1 Juni 1945.

Berbakal beberapa rumusan dan perubahan narasi terhadap poin-poin yang bakal dijadikan sila-sila Pancasila tersebut.

Namun saat ini, di tengah era digital dan teknologi yang semakin canggih, tantangan implementasi terhadap nilai-nilai Pancasila cukup berat. Sebab, kita telah terjebak pada pola perilaku asing dibandingkan mengamalkan butir-butir Pancasila itu sendiri.

Padahal bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki komitmen dan memahami buah pemikiran serta cara pandang hidup yang disarikan para Pendiri Bangsa.

Ada beberapa butir-butir yang patut diamalkan yang terkandung dalam lima sila dari Pancasila.  Dasar negara kita ini terkesan semakin dilupakan dan dipinggirkan oleh sebagian besar kaum milenial saat ini.

Akhir-akhir ini pengamalan Pancasila tak bisa dipungkiri mulai pudar, ruang-ruang dielatika milenial diisi dengan paham-paham asing yang tidak sejalan dengan jati diri Bangsa Indonesia.

Ada yang sibuk menghabiskan waktunya dengan gadget dan bermain game online tanpa orientasi yang jelas. Problema ini merupakan fenomena nyata yang sedang terjadi.

Disisi lain sebagaimana dikemukakan oleh Lickona dalam Megawangi (2004:7-8) menyebut kan bahwa ada sepuluh tanda-tanda sebuah bangsa sedang menuju kehancuran.

Tanda-tanda yang dimaksud adalah:
1) Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja
2) Penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk
3) Pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan
4) Meningkatnya perilaku yang dapat merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol, dan seks bebas
5) Semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk
6) Menurunnya etos kerja
7) Semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru
8) Rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara
9) Membudayakan ketidakjujuran
10) Adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.

Jika berpedoman pada fenomena di atas, pemudaran nilai-nilai jati diri Bangsa Indonesia yang terkandung dalam sila-sila Pancasila tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Karena Bangsa Indonesia pasti memiliki jalan sendiri sesuai karakter dan sejarah perjuangannya. Tentunya berbeda antara bangsa satu dengan bangsa lainnya.

Tetapi, kenapa seolah-olah Pancasila itu hanya dianggap simbol kasat mata dan sulit untuk implementasikan saat ini?

Menjawabnya sangat sederhana. Sebagian besar kaum milenial hanya memandang Pancasila dalam konteks sederhana.

Padahal, seharusnya kita bisa berpatokan pada jati diri bangsa yang memiliki adat istiadat ketimuran dan sikap patriotisme serta rasa nasionalisme yang tinggi.

Pandangan inilah yang harus ditanamkan dalam diri setia individu Bangsa Indonesia.

Wujud nasionalisme dalam diri setiap warga negara perlu dilandasi oleh pemahaman yang kental terhadap spirit yang dikandung dalam setiap sila dari Pancasila.

Pancasila yang dirancang dari awal sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara dan bukan hanya dijadikan sebagai narasi alam pikiran belaka. Tetapi seharusnya menjadikan kita sosok Pancasilais militan.

Melihat apa yang telah digagas oleh Sirajudin mengenai gerakan Literasi Pancasila, yang mana beliau menjadi salah satu penggiat.

Maka dari itu, memperingati Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni 2020, saya secara tidak langsung mengajak kaum milenial di Kabupaten Nunukan untuk menggalang Gerakan Literasi Pancasila dalam ruang-ruang setiap sendi kehidupan.

Baik itu berbentuk diskusi, lomba menulis, pentas seni budaya, bedah film perjuangan kemerdekaan Indonesia, yang tentunya berhubungan langsung dengan nilai-nilai Pancasila.

Saya juga turut mengimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Nunukan untuk lebih menjiwai dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, baik secara individu maupun dalam berbangsa dan bernegara. (#)

(*) Penulis adalah Bupati Nunukan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here