Risiko Resesi Belum Menghinggapi Indonesia, Morgan Stanley: Indonesia Bisa Pulih Cepat

Jakarta (BERANDATIMUR.COM) – Saat dua negara tetangga yakni Malaysia dan Singapura yang diprediksi berada pada ambang resesi karena terjadi kontraksi pertumbuhan ekonomi selama pandemi COVID-19. Bagaimana dengan Indonesia?

Apakah risiko resesi juga begitu nyata di Tanah Air? Sejauh ini, sepertinya kemungkinan ke arah sana masih sangat kecil. Proyeksi dari berbagai institusi memperkirakan Indonesia bisa terhindar dari resesi.

Sebagaimana diungkapkan Bank Indonesia (BI) sebelumnya yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi yang berpenduduk 270 juta lebih ini pada kuartal II, III, dan IV tahun ini masing-masing sebesar 0,4 persen, 1,2 persen, dan 3,1 persen.

Bahkan tidak ada kontraksi yang menjurus pada kondisi resesi ekonomi.

Hal yang sama diperkirakan oleh Moody’s Analytics. Lembaga yang bergerak dalam bidang peneliti ekonomi mengenai risiko yang bermarkas di Amerika Serikat ini memperkirakan ekonomi Indonesia terkontraksi -3,9 persen pada kuartal II-2020.

Tetapi pada kuartal III dan IV masing-masing tumbuh positif pada kisaran 3 persen dan 2,8 persen, sebagaimana dilansir dari CNBC Indonesia pada Senin, 1 Juni 2020.

Kemudian, Mirae Asset meramalkan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 terkontraksi -1,5 persen, tetapi kembali ke teritori positif pada kuartal III dan IV dengan pertumbuhan masing-masing 1,5 persen dan 4,5 persen.

Sumber: CNBC Indonesia

Kontraksi adalah pertumbuhan ekonomi dua kuartal beruntun pada tahun yang sama. Institusi seperti Moody’s Analytics dan Mirae Asset memang memproyeksi ada kontraksi, tetapi hanya satu kuartal sehingga belum masuk kategori resesi.

Bahkan Morgan Stanley memperkirakan Indonesia menjadi salah satu negara yang bisa pulih dengan cepat. Morgan Stanley membagi fase pemulihan ekonomi berbagai negara dalam empat kelompok besar.

Morgan Stanley adalah sebuah bank investasi dan broker retail yang berbasis di New York dengan CEO: James P. Gorman.
Kelompok pertama hanya ada satu negara yaitu China.
Sebagai negara yang paling awal terpukul karena virus corona, juga menjadi negara yang bangkit paling duluan.
Bahkan Morgan Stanley memperkirakan ekonomi China bisa kembali ke level sebelum pandemi virus corona paling cepat pada kuartal III-2020.
Kelompok kedua beranggotakan Filipina, India, dan Indonesia.
Ekonomi di tiga negara ini bisa pulih dengan cepat karena minimnya eksposur terhadap rantai pasok global. Konsumsi domestik yang kuat membuat Filipina, India, dan Indonesia punya keunggulan yang tidak dimiliki negara-negara lain.
Kelompok ketiga adalah Korea Selatan dan Taiwan.
Dua negara ini punya ketergantungan yang tinggi terhadap ekspor, sehingga kalau permintaan dunia belum pulih maka sulit untuk bangkit.
Kelompok terakhir adalah Thailand, Malaysia, Hong Kong, dan Singapura. Selain tergantung kepada ekspor, negara-negara ini juga menerapkan lockdown sehingga permintaan domestik juga anjlok.

Pukulan ganda ini membuat ekonomi Singapura dan Malaysia butuh waktu lebih lama untuk pulih. Oleh karena itu, risiko resesi menjadi lebih tinggi.

Resesi Ekonomi
Sumber: CNBC Indonesia

Ya, kekuatan domestik memang menjadi kunci bagi negara seperti Indonesia untuk bertahan dari jerat resesi.

Populasi pendudukan yang mencapai lebih dari 270 juta jiwa, warga +62 hanya makan-tidur-makan-tidur selama #dirumahaja pun ekonomi masih bisa tumbuh sedikit di bawah 3 persen pada kuartal I-2020.

Indonesia juga begitu mengandalkan konsumsi domestik sebagai penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB). Pada kuartal I-2020, konsumsi rumah tangga menyumbang hampir 60 persen dari pembentukan PDB.

Kekuatan domestik yang luar biasa membuat Indonesia kurang bergantung kepada faktor eksternal. Ekspor hanya menyumbang tidak sampai 20 persen dalam pembentukan PDB.

Bandingkan dengan Malaysia. Pada 2019, ekspor berkontribusi 65,22 persen dalam pembentukan PDB Negeri Harimau Malaya. Lebih dari separuh ekonomi Malaysia disumbang oleh ekspor, sehingga saat permintaan dunia menurun akibat pandemi virus corona maka jalan menuju resesi menjadi sangat terbuka.

Lebih edan lagi di Singapura. Tahun lalu, nilai ekspor Singapura mencapai 173,52 persen dari PDB. Singapura adalah negara dengan rasio ekspor terhadap PDB tertinggi di dunia.

Ekonomi Singapura bakal merana kalau ekspor mereka bermasalah. Risiko resesi menjadi sangat tinggi. (***)

Editor: M Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here