Presiden Bervisi Kultural Harapan Rakyat

0
176

Oleh: Almadar Fatah

Usainya pelantikan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia pada 20 Oktober 2019 dengan modal pemahaman kultural yang sangat kaya. Rakyat Indonesia berharap di bawah kepemimpinan nasional 5 tahun ke depan Jokowi – Ma’ruf Amin akan saling melengkapi dan saling mengisi.

Resonansi yang terdengar dari rakyat Indonesia, harapan baru harus secepatnya diwujudkan menjadi jawaban janji yang pernah disampaikan Jokowi – Ma’ruf Amin Bahwa demokrasi berbudaya adalah pilar utama untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk menipu rakyat.

Untuk mewujudkan janji itu, kita berharap rakyat Indonesia kembali solid melepaskan berbagai atribut sentimen sosial-politik, primordial dan agama. Dimana sebelumnya terasa kental menjadi cair dalam bingkai yang sangat sederhana yaitu persaudaraan.

Semua kembali lebur menjadi perekat dalam persaudaraan, tidak sepantasnya persaudaraan dikorbankan demi kepentingan kekuasaan.

Persaudaraan merupakan investasi sosial-kultural yang sangat penting didalam membangun peradaban bangsa ini, termasuk demokrasi berbudaya.

Demokrasi berbudaya, demokrasi yang memposisikan rakyat sebagai pemilik sah kedaulatan. Karena itu, kekuasaan lahir melalui demokrasi harus berorientasi pada kepentingan rakyat, bukan kepentingan golongan, kelompok elit kekuasaan apalagi elit ekonomi alias penguasa modal. Pemerintah dan penyelenggara negara adalah pelayan rakyat dan harus patuh menjalankan roda konstitusi.

Pada level kultural, pemerintah dan penyelenggara negara adalah pimpinan yang berkewajiban memberikan orientasi dan aspirasi bagi rakyat.

Hal ini berkaitan dengan budaya nilai/etika/norma/moral/hukum dan budaya berkarya baik secara tangible maupun intangible. Untuk itu, pemerintah dan penyelenggara negara dituntut untuk memiliki nilai-nilai kepemimpinan kultural.

Yakni, pemerintah yang bekerja atas kesadaran nilai-nilai budaya demi merespon hangatnya harapan rakyat Indonesia dalam mendorong penguatan kerakter sesuai dengan kepribadian budaya bangsa, serta menciptakan peluang budaya, sosial, ekonomi dan politik untuk mengembangkan potensi, martabat dan kesejahteraan rakyat.

Pemerintahan Jokowi – Ma’ruf Amin ke depan harus mampu menciptakan infrastruktur sosial dan budaya yang menjawab kebutuhan perkembangan masyarakat, serta dapat mendistribusikan kekuasaannya secara adil ke masyarakat. Artinya, masyarakat diposisikan di habitatnya sebagai subjek dan selalu dilibatkan dalam pembangunan sehingga turut menikmati hasil-hasilnya dengan baik secara material maupun non material.

Pemerintah dan penyelenggara negara yang bervisi kultural selalu berorientasi pada nilai-nilai budaya rakyat. Tidak semata-mata mengejar kepentingan ekonomi dengan menjadikan negara ini tidak ubahnya pasar bebas yang hanya menguntungkan para penguasa modal besar (asing/domistik).

Ekonomi memang sangat penting tetapi harus selalu diselaraskan dengan nilai-nilai kebudayaan kita sebagai bangsa yang berbudaya dan bermartabat.

Kita mengidealkan Indonesia ke depan menjadi negara dan entensitas besar bangsa yang berbudaya, beretika, bermartabat dan berperadaban tinggi. Menjadi negara dan bangsa modern tapi tetap memiliki kepribadian budaya, sehingga tidak menjadi negara dan bangsa yang modern yang anonim atau bangsa tercabut dari akar budayanya.

Kita bisa contoh negara dan bangsa Jepang dan Korea Selatan yang modern tapi tetap berbesic pada kekuatan nilai-nilai budaya tradisi. Mereka memahami dan mengerti kebudayaan sebagai kontinuitas, dimana nilai-nilai lama menjadi inspiratif keramat di dalam membangun kebudayaan dan peradaban berbangsa dan bernegara.

Bangsa ini harus banyak belajar dari sejarah pemimpin besar di masa lalu Bung Karno, pandangan dan sikap politiknya dalam menerjemahkan demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara selalu mengedepankan nilai-nilai kepemimpinan berbudaya dan bermartabat dalam urusan kepentingan rakyat dan begara.

Penulis adalah pemerhati budaya tinggal di Polman Sulawesi Barat, aktif menulis di Harian Fajar dan Pedoman Rakyat tahun 90-an. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here