Peluncuran PARAS Perbatasan
Bupati Nunukan Asmin Laura Hafid memberikan sambutan pada peluncuran PARAS Perbatasan pada Sabtu (12/10)

Nunukan (BERANDATIMUR.COM) – Selain melantunkan pantun-pantun jenaka dan penuh makna saat memberikan sambutan pada upacara peringatan Hari Ulang Tahun Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara yang ke-20, Bupati Nunukan Asmin Laura Hafid juga menyelipkan sindiran bagi warga yang seringkali nyinyir di media sosial (medsos).

“Saya tidak perlu merespon koar-kora oknum-oknum yang tidak senang dengan pemerintahan saat ini, tapi saya hanya bekerja dalam diam,” ujar Laura panggilan Bupati Nunukan sebagai jawaban dari berbagai komentar warga melalui medsos dan lain-alinnya, Sabtu, 12 Oktober 2019.

Ia menegaskan, koar-koar tersebut ditanggapinya dengan cambukan untuk bekerja dan berbuat lebih baik lagi. Menurut dia, tujuan utama pemerintahannya adalah ingin mensejahterakan masyarakatnya secara merata dan adil sesuai dengan slogannya “Adil Sejahtera”.

Meskipun banyak warganya yang menilainya gagal dalam pemerintahannya tetapi mereka tidak tahu sejumlah keberhasilan yang telah dicapai selama tiga tahun memimpin Kabupaten Nunukan. Laura menyebutkan, sejumlah

prestasi membanggakan diantaranya, penghargaan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pengawas Keuangan (BPK) RI tiga tahun berturut-turut, pelayanan perizinan menggunakan OSS, prestasi olahraga dan lain-lainnya.

Penyerahan Kode Wilayah Kecamatan Baru
Bupati Nunukan Asmin Laura Hafid menyalami kepala desa dari Kecamatan Lumbis Ogong usai menerima dokumen kode wilayah dari Kementerian Dalam Negeri RI, Sabtu (12/10)

Laura mengakui, untuk memuaskan semua orang atau kelompok sangatlah mustahil karena manusia memiliki keterbatasan dalam berbuat dan berpikir. Oleh karena itu, koar-koar di medsos oleh oknum-oknum tertentu tidak penting untuk ditanggapi, lebih baik bekerja dalam diam.

Sebaiknya warga melinat secara positif terhadap kinerjanya dimana anggaran pada APBD yang sangat terbatas sejak awal pemerintahanya. Bahkan terpaksa harus membayar utang hingga puluhan miliar rupiah peninggalan pemerintahan Haji Basri-Hj Asmah Gani.

Maka sangat naif apabila keberhasilan seseorang hanya dinilai dari peningkatan infrastruktur fisik semata tanpa melihat sektor lainnya yang mungkin mulai menunjukkan peningkatan signifikan. Ia mencontohkan, pembangunan Pasar Rakyat Adil Sejahtera (PARAS) Perbatasan yang tidak menggunakan dana APBN ataupun APBN.

Namun pasar rakyat yang terletak di Jalan Lingkar Kelurahan Selisun Kecamatan Nunukan Selatan ini dibangun menggunakan dana Coorporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Nunukan sejak 2017 lalu.

Pasar ini menelan anggaran sebesar Rp2 miliar lebih semuanya dibiayai oleh CSR perusahaan, jelas Laura usai peluncuran PARAS Perbatasan ini. Pasar ini diperuntukkan khusus bagi masyarakat di daerah itu yang menggeluti usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Pembangunan pasar ini, tidak lain untuk memberikan fasilitas bagi pelaku UMKM dalam meningkatkan kesejahterannya. Meskipun sejumlah fasilitas yang direncanakan sejak awal belum mampu disediakan seperti Anjungan Tunai Mandiri (ATM) perbankan dan kawasan penjualan pedagang lainnya.

Laura mengatakan, pasar rakyat ini dirancang dengan konsep pasar modern dengan tiga tahap pembangunan. Untuk saat ini baru satu tahap dan tahap berikutnya akan dilaksanakan tahun berikutnya sesuai dengan kemampuan anggaran yang dimiliki.

Ia menyadari, selama kepemimpinannya ada kelompok atau orang yang tidak senang. Tetapi dia akui tidak akan meyalani nyinyiran atau koar-koar yang tidak berdasar pada fakta dan oknum-oknum yang tidak memahami kondisi keuangan daerah yang sebenarnya.

Bahkan dia menyinggung juga soal pemadaman listrik secara bergilir selama ini dimana ada oknum-oknum personal yang menyalahkannya. Laura menilai, nyinyiran tersebut tanda tidak paham kewenangan dan fungsi bagi seorang kepala daerah.

 

Peringatan HUT Kabupaten Nunukan
SEjumlah baliho ucapan selamat terpasang pada lokasi uoacara di Jalan Lingkar Kelurahan Selisun, Sabtu (12/10)

Seharusnya, kata dia, masalah pemadaman listrik diarahkan kepada PT PLN selaku perusahaan negara bukan kepada pemda. Hanya saja, Pemkab Nunukan tetap berkoordinasi dengan BUMN tersebut untuk menanyakan permasalahan yang dialami sehingga melakukan pemadaman listrik.

“Akibat pemadaman listrik di Nunukan, saya sudah beberapa berkoordinasi dengan PLN menanyakan permasalahnnya. Jadi bukan kewenangan atau fungsi pemda mengurusi masalah listrik karena milik perusahaan negara (PT PLN). Cuma memang kami dari pemda tetap harus berkoordinasi menanyakan permasalahannya,” beber Laura.

Sindiran ini diungkapkan secara singkat oleh Bupati Nunukan saat membacakan sambutan pada upacara peringatan HUT ke-20 Kabupaten Nunukan dan peluncuran Pasar Rakyat Adil Sejahtera. Pernyataan ini kemungkinan ingin mengingatkan kepada warganya yang seringkali berkoar-koar tak berdasarkan fakta.

“Saya tidak penting menanggapi koar-koar di medos, tapi saya bekerja dalam diam,” ucap dia lagi.

Catatan: Sebuah nyinyiran adalah hal biasa pada era teknologi yang semakin canggih ini, apalagi media sosial (medsos) yang kian berkembang dan banyak diminati masyarakat untuk berinteraksi saat ini. Berbagai aksi dan reaksi berlangsung dalam ungahan dalam media tersebut.

Tak ayal lagi, nyinyiran dari kelompok tak senang dan benci kepada pemerintah baik daerah maupun pusat memanfaatkan medsos ini secara terbuka mengungkapkan ketidaksenangannya dengan “menyerang” secara vulgar.

Dalam arti, tak penting memuaskan kelompok yang terlanjur tak puas dengan kinerja kita. Namun, pemerintah juga perlu memberikan penjelasan dari nyinyiran yang dilontarkan oleh “musuh-musuhnya”.

Tujuannya sebagai jawaban, agar nyinyiran tersebut tidak semakin meluas dan disalahartikan oleh warga yang tidak paham atau awam. Penjelasan atau jawaban itu penting untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat secara umum tak terkecuali oknum-oknum yang nyinyir tersebut.

Langkah yang ditempuh Bupati Nunukan Asmin Laura Hafid, menjawab koar-koar atau nyinyiran itu yang diungkapkan pada saat upacara peringatan HUT Kabupaten Nunukan yang ke-20 dan peluncuran PARAS Perbatasan bahwa tidak penting menanggapi koar-koar itu.

Cukup diam dan bekerja tanpa harus mengekspos secara vulgar kepada pihak-pihak yang tidak menyukainya. MUngkin begitu maksud dari sindiran yang dilontarkan Laura ini.

Lebih penting adalah bekerja dan bekerja dengan tujuan utama demi mensejahterakan masyarakat walaupun bukan pembangunan fisik yang terlihat nyata. Pembangunan sektor usaha kecil dan menengah pun sangat tepat sesuai dengan tagline kampanyenya pada pilkada 2015 yakni pengembangan agribisnis.

Program agribisnis ini tentunya lebih berorientasi dari sektor pertanian, perkebunan dan perikanan serta kelautan. Sebagaimana kondisi wilayah Kabupaten Nunukan. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here