Oleh: Almadar Fattah

Memperingati Hari Guru Nasional, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim mengkritik sistem pendidikan yang masih mengekang guru.

Nadiem yang juga kemanakan mantan Mendikbud Fuad Hasan, menyebut guru selama ini hanya diberikan aturan-aturan, tetapi tidak diberikan pertolongan.

Guru pun kerap dibebani tugas-tugas administratif yang dinilai tak punya manfaat yang jelas dan arah tujuannya.

Demikian pula dengan cara mengajar yang berorientasi pada hafalan. Kata Nadiem yang diperlukan di dunia nyata adalah kemampuan berinovasi, berkarya dan berkolaborasi.

Sang menteri muda dengan sejuta pengalamannya mengenyang pendidikan di luar negeri juga mengkritik keberadaan habitat kurikulum yang terlalu padat. Hal ini menjadi penyebab minimnya eksplorasi dan inovasi guru dalam proses belajar mengajar.

Nadiem Makarim adalah sosok muda yang paripurna yang diberikan mandat sebagai Mendikbud untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia.

Menurut Presiden Joko Widodo, Indonesia dengan potensi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara maupun dunia, harus mampu berkompetisi.

Untuk mencapai impian itu, perlu adanya rambu-rambu yang jelas dalam pengajaran di bidang pendidkan nasional.

Salah satunya perlu ada kurikulum nasional yang sifatnya wajib untuk mencapai kompetensi tertentu. Artinya, akan terjadi perombakan kurikulum secara revolusioner dalam pendidikan kita.

Kalau ini terjadi revolusioner dalam pendidikan kita, diharapkan tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi semata dalam memenuhi kebutuhan hidup, tetapi aspek karakter yang diinternalisasi dalam praktik budaya harus lebih variatif dan dihidupkan.

Oleh karena itu, kita tidak menjadi robot-robot yang terpenuhi kebutuhan hidupnya secara ekonomi saja tetapi secara roh kita miskin rasa sosial atau kemanusiaan.

Persoalan pendidikan kita tidak hanya pada loncatan digital jauh ke depan tapi juga memperbaiki carut marut dengan memperbaiki pendidikan karakter melalui kearifan lokal atau kebudayaan.

Karena pendidikan adalah tempat manusia sebagai pembelajar yang terus mencari ilmu pengetahuan baru, kiranya pendidikan kita tidak hanya disiapkan untuk mencetak tenaga kerja siap pakai, tetapi harus juga sebagai manusia yang memiliki karakter.

Kita mengharapkan sumber daya manusia Indonesia bukan hanya bisa siap kerja, tetapi diharapkan juga ia tidak berhenti sebagai pembelajar dan pencari ilmu pengetahuan untuk memajukan paradaban manusia.

Kualitas guru adalah masalah lainnya yang urgen dan harus ditangani dengan serius karena loncatan pendidikan berbasis teknologi digital harus pula menyertakan loncatan kemampuan guru diseluruh tingkatan pendidikan.

Dari sisi ini diperlukan revolusi mental yang menyentuh seluruh komponem di dunia pendidikan, baik guru, siswa dan seluruh pemangku kepentingan.

Ingat! Kompetensi dan mentalitas guru dalam mendidik akan menentukan kualitas pendidikan di Indonesia.

Penulis aktif menulis di Harian Pedoman Rakyat dan Harian Fajar Makassar Tahun 1990-an

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here