Salah seorang pedagang cabai di salah satu pasar di Kota Makassar, Sabtu (3/8). Foto: Atim

Makassar (BERANDATIMUR.COM) – Menjelang hari raya Idul Adha 1440 Hijriyah di Kota Makassar Sulawesi Selatan harga cabai kecil tiba-tiba melonjak hingga Rp100.000 per kilo gram.

Lonjakan harga ini ditanggapi Ikatan Persatuan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI ) Sulsel bahwa pergeseran harga sebesar itu tidak biasanya terjadi di daerah itu.

Namun harga cabai kecil yang terus naik setiap hari mengagetkan masyarakat.  Berdasarkan catatan IKAPPI, tren kenaikan cabai per hari berkisar Rp1.900-Rp2.000 per kilo gram.

Bendahara Umum IKAPPI Sulsel Adnan Arsyad di Makassar mengatakan, harga terus mengalami kenaikan khususnya cabai merah dan hijau.

Sedangkan untuk cabai merah keriting, kenaikan harganya masih di level Rp800-Rp 1.000 per kilo gram. “Ini (harga cabai) naik terus. Setiap hari naik,” kata Adnan saat ditemui di Makassar, Sabtu, 3 Agustus 2019.

Sesuai catatan dia, harga cabai di sejumlah pasar telah mencapai Rp90 ribu-Rp100 ribu per kilo gram. Dikhawatirkan harga tersebut terus mengalami tren kenaikan seiring dengan masuknya momentum Hari Raya Idul Adha 1440 H.

Meski dia mengakui, tingkat kebutuhan konsumen umumnya pada momentum Idul Adha itu tidak setinggi pada momentum Hari raya Idul Fitri.

Mengacu catatan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, harga cabai merah besar pada 1 Agustus 2019 rata-rata mencapai Rp55.650 per kilo gram, cabai merah keriting Rp59.400 per kilo gram, cabai rawit merah hijau Rp62.400 per kilo gram, dan cabai rawit merah Rp78.600 per kilo gram.

Di sisi lain Adnan menjelaskan, saat ini pedagang pasar sudah mulai kesulitan mencari suplai cabai. Sebab pasokan cabai mulai mengalami tren penurunan yang cukup konsisten setiap hari.

Dia berharap pemerintah segera mensuplai pasar dengan pasokan cabai sebelum harga semakin terbentuk tinggi.

Selain itu, Bendahara Ikappi Sulsel ini juga menanggapi kelangkaan gas elpiji 3 kilo gram saat ini terjadi di Kota Makassar.

“Gas elpij 3 kilo gram ini juga menjadi salah satu kebutuhan dapur emak-emak. Kalau pasokan gas epiji kurang ini juga berdampak ke masyarakat menengah ke bawah yang rata-rata menggunakannya,” jelas Adnan.

Celakanya lagi, kata dia, ada oknum penjual yang sengaja menaikkan harga gas elpiji bersubsidi itu.

Kendati demikian, Adnan meminta pemerintah setempat untuk segera mengambil langkah antisipasi untuk mengatasi masalah gas elpiji berbentuk melon ini.

“Apalagi menjelang lebaran Idul Adha, pasti kebutuhan gas elpiji masyarakat meningkat,” kunci dia. (*)

Reporter: Atim
Editor: M Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here