Rendahnya Harga Komoditas Hortikultura Pemicu Kaltara Alami Deflasi Pada Mei 2020

BI Kaltara
Doc. Kantor BI Pwrwakilan Kaltara

Nunukan (BERANDATIMUR.COM) – Provinsi Kaltara mengalami deflasi pada Mei 2020 akibat menurunnya harga komoditas hortikultura di tengah pandemi COVID-19.

Informasi BI Kantor Perwakilan Kaltara menyebutkan pada Mei 2020, Kota Tarakan mengalami deflasi sebesar -0,27 persen (m to m) sedangkan Tanjung Selor mengalami inflasi sebesar 0,56 persen (m to m).

Menurut Kepala Kantor Perwakilan BI Kaltara, Yusrizal di Tarakan menyatakan, sekaitan dengan kondisi ekonomi seperti ini maka Kalimantan Utara mengalami deflasi sebesar -0,10 persen (m to m).

Realisasi ini jauh lebih rendah dibandingkan historis inflasi periode lebaran 5 tahun sebelumnya yang rata-rata 1,67 persen(m to m)) yang didorong oleh meningkatnya harga beberapa komoditas pangan strategis.

Deflasi ini terjadi akibat penurunan harga sejumlah komoditas hortikultura sesuai dengan trennya dan terkendalinya tarif angkutan udara akibat penyebaran wabah COVID-19, ungkap Yusrizal pada Rabu, 3 Juni 2020.

Berdasarkan perkembangan tersebut, inflasi tahunan Provinsi Kaltara pada periode Mei 2020 sebesar -0,68 persen (yoy) atau berada di bawah kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 3,0 persen (yoy).

“Inflasi di Provinsi Kaltara pada Mei 2020 berbeda dengan pola historis bulan lebaran yang mengalami inflasi tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2020 mengalami deflasi dibandingkan rata-rata inflasi bulan lebaran selama lima tahun terakhir,” beber dia.

Ia mengungkapkan, deflasi di daerah itu didorong oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar -0,50 persen (m to m) ditengah terkendalinya kelompok lainnya.

Selain itu, kenaikan pada kelompok transportasi sebagai dampak dibukanya beberapa rute penerbangan dapat menahan deflasi lebih dalam.

Dimana kelompok transportasi ini tercatat mengalami inflasi sebesar 0,01 persen (m to m). Di sisi lain, kelompok perumahan, listrik, air dan bahan bakar tercatat tidak mengalami pergerakan dengan inflasi 0,00 persen (m to m).

Kemudian, kelompok makanan, minuman dan tembakau pada Mei 2020 mengalami deflasi sebesar -0,50 persen (m to m).

Ini lima komoditas yang memberikan andil deflasi bulanan (% m to m) yaitu bayam (-0,14%), kangkung (-0,11%), bandeng (-0,06%), cabai rawit (-0,04%) dan telur ayam ras (-0,03%).

Sementara itu, komoditas yang memberikan andil inflasi bulanan (% m to m) terbesar yaitu bawang merah (0,08%), udang basah (0,06%), tomat (0,04%), kol (0,02%), dan labu (0,01%).

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami penurunan sebagai dampak dari adanya limpahan produksi beberapa komoditas hortikultura seiring membaiknya cuaca di wilayah Kaltara setelah sebelumnya mengalami inflasi,” terang Kepala BI Kaltara ini.

“Di sisi lain, komoditas bawang merah mengalami kenaikan secara nasional sehingga menahan penurunan kelompok ini lebih dalam,” tambah dia.

Meskipun demikian, secara tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat inflasi sebesar 0,03 persen (yoy).

Sementara itu, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar lainnya pada Mei 2020 tercatat tidak mengalami pergerakan dengan inflasi sebesar 0,00 persen (m to m).

Secara tahunan, kelompok tersebut mencatat inflasi sebesar 1,41 persen (yoy).
Disamping itu, terjaganya inflasi pada Mei 2020 terutama didorong oleh terkendalinya kelompok transportasi khususnya tarif angkutan udara.

Penurunan tarif angkutan terjadi sejak Pebruari 2020 hingga April 2020 ditambah adanya beberapa rute penerbangan yang ditutup sementara akibat menyebarnya wabah COVID-19.

Selanjutnya, adanya PSBB di Kota Tarakan juga turut menurunkan tarif angkutan udara. Namun pada Mei 2020, terdapat sedikit peningkatan tarif angkutan udara sejalan dengan mulai dibukanya beberapa rute penerbangan tersebut oleh maskapai tertentu.

Kantor BI perwakilan Kaltara, ke depannya inflasi akan tetap dijaga sehingga berada pada sasaran inflasi 2020, yaitu 3,0±1 persen.

Untuk itu, pentingnya koordinasi antara elemen terkait yakni Pemerintah, Bank Indonesia dan lembaga terkait yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus diperkuat.

Dalam menghadapi sejumlah risiko yang dapat mendorong kenaikan harga, termasuk memitigasi dampak penyebaran COVID-19 terhadap inflasi di wilayah Kaltara. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here