Rumput laut
Ilustrasi

Nunukan (BERANDATIMUR.COM) –Pembudidaya rumput laut di Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara telah berkali-kali mengeluhkan adanya pencemaran air laut yang berdampak pada anjloknya produksi sejak Januari 2019.

Kamaruddin, salah seorang pembudidaya rumput laut di Kampung Mamolo Kelurahan Tanjung Harapan Nunukan, Kamis mengeluhkan belum adanya tindakan tegas dari aparat hukum sekaitan dengan dugaan pencemaran air laut yang disebabkan oleh limbah bahan bakar minyak (BBM) jenis oli.

Padahal kejadian ini telah berlangsung sejak Januari 2019 hingga saat ini yang menyebabkan rumput laut berubah warna sehingga rusak dan cepat patah dari talinya.

Kamaruddin tidak mau menuding bahwa limbah atau tumpahan oli tersebut berasal dari perusahaan terdekat atau ada kesengajaan dari oknum-oknum tak bertanggung jawab.

Hanya saja dia meminta kesadarannya agar membuang limbah pada tempatnya atau di daratan supaya tidak merusak rumput laut yang bertebaran di laut itu.

Akibat limbah BBM inilah, rumput laut banyak yang berubah warna menjadi putih dan hitam mirip terbakar.

Ketika diselidiki, kata Kamaruddin, ternyata air laut penuh dengan tumpahan seperti minyak dan oli.

Sehubungan kondisi ini yang dialami pembudidaya maka mengurangi jumlah bentangan tali agar tidak mengalami kerugian besar.

Pengurangan bentangan tali tersebut dipastikan menurunkan produksi setiap masa panen, ujar dia.

Akibat pencemaran air laut itulah, produksi rumput laut di daerah itu mengalami penurunan sekira 30 persen dari sebelumnya mencapai 3.000 ton setiap bulan.

Ia mengajak perusahaan atau nelayan lainnya agar tidak membuang bekas BBM di laut. Demi kelangsungan hidup rumput laut dan tidak merugikan pihak lain.

Sebaiknya limbah BBM yang telah terpakai dibuang pada tempat atau lubang yang aman agar tidak mengalir ke laut.

Catatan: Walaupun Kamaruddin tidak memastikan limbah BBM bekas yang mencemari laut di seputaran lokasi budidaya rumput laut di Kampung Mamolo berasal dari perusahaan dan pihak tertentu. Tetapi buangan limbah itu telah merusak ekosistim dan habitat di laut.

Rumput laut yang seharusnya tumbuh subur berkat planton-planton, ikut terhambat pertumbuhannya. Bahkan limbah BBM tersebut telah memutus mata rantai proses budidayanya.

Harapan Kamaruddin dan mungkin pembudidaya rumput laut lainnya di Kampung Mamolo adalah meningkatkan kesadaran oknum-oknum yang punya limbah BBM atau sejenisnya agar tidak membuang di laut atau lokasi yang bisa mengalir langsung ke laut.

Perkiraan lainnya, kemungkinan juga buangan sisa BBM pembudidaya rumput laut sendiri yang tumpah ke laut.

Jika tidak, maka kelangsungan budidaya rumput laut di daerah itu sangat terganggu hingga merugikan masyarakat. (***)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here