Penemuan Drone Laut Diduga Milik China di PUlau Bonerate, Selayar
Drone laut diduga milik China ditemukan nelayan Kabupaten Selayar diamankan di Koramil 1415-03 Passimaranu, Selayar. (Foto: Sumber Media Selayar)

Jakarta (BERANDATIMUR.COM) – Drone yang ditemukan di perairan Indonesia di Pulau Bonerate, Kepulauan Selayar, Sulsel diduga bagian dari mata-mata negara China sehingga Pemerintah Indonesia patut bertindak tegas.

Penemuan drone ini mendapat tanggapan dari Guru Besar Hukum Internasional UI, Hikmahanto Juwana dikutip dari Antara pada Minggu, 3 Januari 2021 yang mengatakan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia harus tegas terhadap negara pemilik pesawat nir-awak (drone) mata-mata bawah laut.

“Bila sudah diketahui asal usul negara yang memiliki drone tersebut, Kemlu harus melakukan protes diplomatik yang keras terhadap negara tersebut dan bila perlu tindakan tegas lainnya,” kata Hikmahanto Juwana.

Hikmahanto mengatakan drone bawah laut ditemukan nelayan di perairan Kepulauan Selayar tersebut kini diamankan oleh TNI AL. Ia juga memberikan protes keras dan tindakan tegas terkait perkara yang dilakukan negara lain ini.

Menurut dia, tindakan tegas tetap diperlukan terlepas dari fakta bahwa negara tersebut adalah negara sahabat, bahkan hingga adanya ketergantungan Indonesia secara ekonomi, tetap tak boleh tinggal diam.

Hikmahanto yang juga Rektor Universitas Jenderal A Yani itu menegaskan jangan sampai terulang kembali insiden atas agen intelijen Jerman.

“Kemlu hanya puas dengan klarifikasi Kedubes Jerman dan agen tersebut dipulangkan oleh Kedubes tanpa ada protes diplomatik,” ujar dia.

Seharusnya, lanjut dia, Kemlu melakukan tindakan yang lebih tegas lainnya bila kegiatan mata-mata terkuak.

“Ini semua dilakukan agar diplomasi untuk mempertahankan kedaulatan NKRI benar-benar diperankan oleh Kemlu,” tutur dia.

Hikmahanto mengatakan, negara lain tak boleh menganggap Indonesia lemah dan mudah diajak berkompromi di saat waktu yang bersamaan ada tindakan mata-mata yang tengah dilakukan.

“Jangan sampai Indonesia dianggap lemah bahkan mudah untuk diajak berkompromi saat tindakan mata-mata yang dilakukan oleh negara lain terkuak,” ujar Hikmahanto.

Seperti diketahui, drone tersebut memasuki perairan Indonesia pada penghujung Desember 2020.

Benda asing itu ditemukan oleh nelayan di perairan Pulau Bonerate, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, dan kini diamankan di Pangkalan TNI Angkatan Laut di Makassar.

Drone pengintai itu diduga milik China, dengan berbentuk tabung dan memiliki banyak sensor serta pemancar jarak jauh di kedalaman laut Selat Malaka.

Untuk itu, perlu adanya tindakan tegas, karena bila sudah ada drone negara lain yang berkeliaran di wilayah Indonesia, khawatir akan mengambil data-data penting geografis dan potensi laut Indonesia.

Sementara Pengamat Militer dan Intelijen Susaningtyas Kertopati berpendapat drone atau unmanned underwater vehicle (UUV) berlabel Shenyang Institute of Automation Chinese Academic of Sciences. Adalah platform khusus yang dirancang mendeteksi kapal-kapal selam non Chinese.

Selain itu, benda ini diperuntukkan merekam semua kapal-kapal yang beroperasi di perairan Asia Tenggara dan Laut Cina Selatan.

Penemuan drone (UUV) ini membuktikan bahwa perairan Indonesia menjadi area adu kekuatan militer antara China dengan Amerika. (***)

Editor: M Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here