COVID-19 Membawa Beragam Hikmah Dalam Pembelajaran

Virus korona masih menjadi momok menakutkan di Indonesia. Penderita positif pun terus bertambah hingga hari ini, Selasa, 21 Juli 2020 telah mencapai 89.869 kasus begitu pula dengan korban meninggal yang telah mencapai 4.320 orang dengan pasien sembuh 48.466 orang.

Semua aspek kehidupan manusia mengalami perubahan drastis termasuk bidang pendidikan dimana proses belajar mengajar (PBM) harus dijalankan dengan jarak jauh (sistim daring). Itu yang dialami bidang pendidikan di Kabupaten Polman, Sulawesi Barat.

Mengingat kondisi ini, ada yang menarik dari narasi yang disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebuayaan Polewali Mandar Hj. Andi Nursami MP dalam kunjungannya memonitoring langsung pembelajaran daring dan luring di beberapa satuan pendidikan di masa pandemi COVID-19 ini.

Bbahwa guru selama ini hanya mengajar berinteraksi siswa dikelas dengan istilah kerennya pembelajaran konvensional, mengajak semua guru tanpa terkecuali untuk lebih dekat dengan IT dan di masa pandemi COVID-19 ini guru, peserta didik dan orang tua berkolaborasi dalam menuntun peserta didik agar tidak kehilangan waktu untuk belajar.

Dari narasi di atas menyadarkan kita semua, bahwa beragam hikmah di masa pandemi COVID-19. Sesungguhnya mengajar dan belajar itu bagi dunia pendidikan kita, selain orang tua mengetahui betapa susahnya guru menjalankan pembelajaran jarak jauh (PJJ) kapan dan dimana saja.

Bagi seorang guru, mengajar itu sudah sebuah kebutuhan untuk tetap dilaksanakan karena menjadi kewajiban demi membantu pemerintah memutus rantai penyebaran COVID-19.

Pembelajaran seperti ini dilaksanakan dengan modal daring dan luring untuk mengantipasi kerumunan yang bisa memicu penyebaran COVID-19. Makanya mau tak mau harus ada inovasi yang kreatif pada dunia pendidikan kita pada umumnya, dimana pembelajaran jarak jauh semakin penting dan harus diakselerasikan.

Pandemi COVID-19 memaksa kita menafsirkan dan menerjemahkan makna hidup, tujuan pembelajaran dan hakekat kemanusiaan. Jika selama ini manusia dipaksa dalam situasi serba cepat, pekerjaan tanpa henti, dikejar target pertumbuhan ekonomi dalam sistem kompetisi.

Namun, bahaya laten dan penyeberan COVID-19 yang menjadi krisis besar manusia modern, memaksa kita untuk sejenak tersentak bernafas, berhenti dari pusaran sistem, serta melihat kembali melihat kehidupan, keluarga, dan lingkungan sosial dalam arti yang sebenarnya. Manusia dipaksa berhenti dari rutinitasnya, untuk memaknai apa yang sebenarnya dicari dalam kehidupan.

Pandemi COVID-19 memaksa semua aktivitas dilakukan di rumah, termasuk proses belajar mengajar. Guru mengajar dari rumah dan siswa belajar di rumah serta orang tua role model bagi anaknya guna menciptakan lingkungan yang nyaman bagi anaknya selama belajar.

Tetapi bukan hal yang termudah untuk beradaptasi, hampir setiap orang diawali dengan berbagai kendala, hingga berangsur-angsur terbiasa, bagi anak kegiatan belajar daring ini sudah menjadi kegiatan atau kewajiban sehari-hari di masa pandemi ini.

Awalnya sebagian guru yang masih agak alergi dengan IT dipaksa untuk cepat menyesuaikan diri dari dengan berbagai suapan aplikasi yang digunakan dalam pembelajaran jarak jauh yang berbasis android.

Tetapi perlu juga disadari, teknologi mungkin bisa mengambil alih peran dalam proses pembelajaran pada kondisi transisi ini, namun kehadiran sosok guru tidak akan tergantikan oleh apapun di dunia ini.

Pasalnya, literasi masyarakat kita yang masih rendah maka kehadiran seorang guru sangat dibutuhkan. Perannya akan selalu dibutuhkan, meski sarana dan bahan belajar saat ini sudah melimpah di dunia maya ( internet ).

Guru adalah profesi yang menuntut kesempurnaan dalam berbagai hal, baik kesempurnaan pengetahuan dan keterampilan maupun tingkah laku. Dengan demikian, proses belajar dari rumah tetap membutuhkan keaktifan guru agar masa belajar mandiri itu menjadi efektif.

Sejatinya pendidikan di rumah adalah pendidikan pertama dan utama, orang tua adalah gurunya, mereka tidak hanya harus menjadi teladan namun juga dituntut mampu mewujudkan sebuah kurikulum mini dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Saat pandemi melanda, ujian bagi peran orang tua pun sangat nyata.

Ki Hajar Dewantara mengungkap tiga pusat pendidikan yang membutuhkan kolaborasi erat demi untuk tercapainya tujuan pendidikan. Pertama adalah sekolah (guru), kedua rumah (orang tua) dan ketiga lingkungan (masyarakat).

Jika saja selama ini kita semua bisa memahami peran masing-masing dalam pendidikan ini, kita tidak butuh adaptasi lama bagi masyarakat untuk menitipkan kegiatan sekolah atau belajar di rumah sekarang.

Senergi orang tua dan guru mutlak harus dilakukan, terlebih saat harus semua dilakukan di rumah, penentu suksenya belajar ada pada dukungan orang tua. Baik sebagai fasilitator, mediator juga menjadi motivator.

Dengan dukungan orang tua yang maksimal, sangat diharapakan bisa membantu anak-anak melalui masa sulit seperti sekarang ini. Pendidikan merupakan tanggungjawab antara keluarga, masyarakat dan pemerintah, sehingga orang tua tidak boleh menganggap bahwa pendidikan anak hanyalah tanggungjawab pemerintah. Di masa pandemi Covid-19 sebagian orang tua sudah menyadari, bahwa peran dan tanggungjawab orang tua penentu suksesnya pendidikan anak.

Penulis : Almadar Fattah
(Aktif menulis di Harian Pedoman Rakyat dan Harian Fajar tahun 90-an)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here