Catatan Impiris Pelajaran Sastra di Sekolah

Oleh Almadar Fattah

KETIKA kita membuka kembali Kurikulum dan buku siswa untuk pelajaran bahasa Indonesia untuk SMP dan SMA, ternyata untuk pokok bahasan sastra juga pendapat perubahan.

Untuk itu yang menjadi landasan dalam tulisan ini, ialah catatan impiris tentang pelajaran sastra dalam kurikulum 13 (K13), disampin itu sikap guru dan siswa dalam menanggapi pengajaran sastra.

Padahal tidak bisa dipungkiri kelahiran bahasa Indonesia yang banyak membantu perkembangannya adalah sastra. Terlihat pada karya-karya sastra sebelumnya Balai Pustaka, bahasa yang dipergunakan pada waktu itu bahasa Melayu.

Kita ketahui bahasa Melayu adalah induk bahasa Indonesia yang dipergunakan masyarakat Indonesia sampai dewasa ini.

Suatu kenyataan yang patut mendapat perhatian dari para ahli bahasa dan sastra Indonesia, pada pokok bahasan apresiasi sastra dan pelajaran sastra pada umumnya.

Di sekolah sekarang terjadi perubahan mulai dari kurikulum KBK sampai dengan K13, baik dilihat dari segi materinya maupun tujuan akhir dari pelajaran itu.

Pelajaran sastra hanya sebagai kebijakan kurikulum dengan alasan untuk mencari kesegeran dalam pelajaran bahasa Indonesia. Selebihnya kebanyakan diberikan tata bahasa ditambah beberapa bahan penunjang.

Sekolah yang mengajarkan sastra baik yang bersifat wajib maupun kebijakan kurikulum, setuasi pengajaran tampaknya cenderung kekurangan nilai praktis.

Pelajàran sastra khususnya, hanya dijadikan sebagai alat untuk lebih mengenal tata bahasa dengan hakekat belajar bahasa adalah belajar berbahasa, bukan belajar tentang bahasa. Hal ini implikasi teori belajar bahasa modern.

Pengajaran sastra materinya lebih cenderung digunakan sebagai acuan untuk memberi kemudahan seluas-luasnya kepada siswa untuk aktif berlatih membaca, berbicara, menyimak dan menulis sekaligus untùk mengenal tata bahasa Indonesia yang sebenarnya.

Dasar esensialnya pengajaran, kurikulum sekarang ini belum mampu memancing kreativitas jalannya pengajaran. Disamping itu, masih banyak tenaga pendidik yang terlalu didikte oleh bùku pegangan, sehingga apa yang terjadi guru terlalu mengutamakan teori tampak ada praktik dan kurang aktif mencari kreasi atau inovasi baru.

Untuk itu, guru harus mengusahakan pengajaran sastra yang bermakna dan jangan terlalu mengutamakan teori tanpa ada kreasi atau inovasi brelian yang bisa mendorong siswa untuk mencintai sastra sekaligus mempunyai kepuasan estetika.

Pengajaran sastra di sekolah tidaklah bertujuan agar siswa ahli dalam ilmu sastra, tetapi yang diharapkan supaya siswa mampu menikmati dan menghayati hasil karya sastra dalam segala bentuknya.

Tujuan akhir pengajàran sastra adalah cinta kepada karya sastra, dimana karya-karya sastra itu punya andil besar dalam sejarah peradaban Indonesia dan perkembangan bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan dan bahasa nasional sejak sebelum Indonesia merdeka sampai sekarang ini.

Kalau kita ingin melihat pengajaran sastra yang tidak pakun, guru jangan terlalu kaķuh dengan buku pegangan saja dengan alasan buku yang diwajibkan sekolah.

Apalagi mengingat perkembangan dewasa ini, bahasa dan sastra berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Buku wajib hanya sebuah kerangka jalannya pengajaran supaya tidak penyimpang dari garis-garis kurikulum. Sedangkan kurikulum adalah suatu sistèm rencana dan pengaturan isi dan bahan pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman dalam kegiatan belajar mengajar. Untuk menghindari kepakuan dalam pengajaran sastra, guru harus inovatif mencari materinya yang orientasi lebih luas.

Selain perpustakaan sebagai sarana terbaik bagi siswa selama ini, guru harus mencari wadah lain tempat pengembangan bakat dan kreativitas siswa. Apakah melalui klipping yang ada hubungannya dengan sastra bisa dikemas dalam bentuk kerja kelompok atau individu.

Serta yang paling perlu disetiap sekolah sebagai kewajiban juga berinovasi “Koran Dinding”. Koran dinding merupakan sarana yang paling baik dalam kaitannya pengembangan bakat dan kreativitas siswa.

Mengingat fungsi koran dinding sebagai penunjang membantu guru dalam mengembangkan bakat minat dan kreativitas siswa. Sehingga siswa mempunyai keterampilan dalam bidang tulis menulis.

Siswa yang mempunyai kemampuan keterampilan tulis menulis akan melahirkan siswa yang kreatif dalam menulis karya ilmiah dan sejenisnya.

Dimana sekarang ini karya ilmiah dan sejenisnya merupakan salah satu syarat sebelum siswa menamatkan pendidikannya disetiap jenjang pendidikan.

Penulis Aktif menulis di Harian Pèdoman Rakyat dan Harian Fajar tahun 90-an

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here