Perspektif Pemahaman Rasisme di Amerika dan Kasus di Indonesia

Oleh: Shamsi Ali*

Ketika saya menyoroti dan mengeritik tajam pernyataan seorang pandeta di Oakland, banyak yang menyangka saya menutup mata terhadap berbagai ketidak beresan yang ada di negeri ini.

Seolah saya tidak peduli, tak kritis, dan tidak ingin membela mereka yang terzholimi haknya.

Saya ingin pertegas sekali lagi, bahwa keadilan tidak dibatasi oleh dinding apapun, termasuk dinding agama. Keadilan harus ditegakkan walaupun itu bertentangan dengan kepentingan diri dan kelompok sendiri.

Karenanya saya akan membela siapa saja dan mengkritisi siapa saja jika saya merasa di mana perlu dibela dan dikritisi. Toleransi sebagai bagian dari keadilan harus ditegakkan untuk dan kepada siapa saja.

Toleran terhadap umat yang berbeda keyakinan tetap harus ditegakkan walaupun itu mungkin sebuah kenyataan pahit. Bagi saya pelarangan membangun gereja, selama itu tidak melanggar aturan-aturan yang ada harus dikritisi.

Tapi sebaliknya, larangan membangun masjid, selama itu tidak melanggar aturan-aturan yang ada juga harus dikritisi. Pelarangan keduanya (membangun gereja atau masjid), baik dalam pandangan agama maupun konstitusi tidak dibenarkan.

Sekali lagi, kritikan saya kepada pendeta itu bukan kecenderungan intoleransi kepada kelompok tertentu. Tetapi bentuk pembelaan keadilan kepada negeri dan umat sendiri.

Saya tidak akan ragu untuk melakukan ini. Jangan pernah berharap karena pujian kepada saya sebagai orang toleran dan moderat, lalu anda menyangka akan diam ketika umat sendiri terzholimi.

Sebaliknya saya pun tidak akan berdiam diri ketika umat lain juga terzholimi haknya. Bagi saya prinsip “do to others what you want others to do to you” (lakukan kepada orang lain apa yang kamu inginkan orang lain lakukan padamu) adalah komitmen.

Itulah sebabnya saya melihat bahwa Islamophobia dan antisemitisme di Amerika Serikat adalah dua sisi mata uang yang sama. Melawan Islamophobia memiliki dasar yang sama untuk melawan prilaku anti semitisme.

Sebab apa yang terjadi pada orang lain boleh jadi juga akan terjadi pada diri kita sendiri.

Lalu apa dasar utama saya mengkritisi pidato sang pendeta itu? Kenapa saya perlu menyuarakan ini?

Ada banyak alasan tentunya. Tapi saya hanya ingin menyebutkan tiga alasan penting dari semua itu.

Pertama, saya memang cukup muak dan lelah (tired) mendengarkan banyak statemen di luar negeri yang menjelek-jelekkan Indonesia, yang terkadang tidak berdasar bahkan diada-adakan.

Saya masih ingat bagaimana sebuah surat pernah dilayangkan ke sebuah organisasi besar di Kota New York, Appeal of Conscience Foundation, di bawah Pimpinan Rabbi Arthur Schneier. Saat itu yayasan ini akan memberikan penghargaan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhyono.

Pada surat tersebut, Indonesia khususnya umat Indonesia begitu digambarkan begitu jahat dan intoleran kepada umat lain. Anggapan yang demikian buruknya maka Presiden SBY dinilai tidak berhak untuk menerima penghargaan tersebut.

Saya mengetahui surat tersebut karena memang saya bersahabat dengan Rabbi Schneier. Beliau adalah Rabbi pertama yang saya kenal pasca kasus 9 Nopember. Beliau kebetulan juga bersahabat dengan mantan Presiden RI, Gus Dur.

Anaknyalah, Rabbi Marc Schneier yang menjadi partner saya dalam membangun dialog antara masyarakat Muslim dan Yahudi di Amerika.

Contoh di atas hanya satu dari sekian kasus yang ada. Bahwa memang ada pihak-pihak tertentu dengan sengaja mencari cara untuk memburuk-burukkan Indonesia di mata dunia.

Terkadang karena kasus tertentu. Bahkan kadang pula dengan mengada-ngada, memplintir sebuah isu jauh dari konteks yang sebenarnya.

Kedua, sebagai putra bangsa yang lahir dan tumbuh besar di Indonesia, minimal hingga tamat sekolah menengah atas sehingga saya tahu Indonesia tidak seperti yang digambarkan. Saya tahu Indonesia tidak memiliki mentalitas rasisme.

Tuduhan bahwa tidak ada kebebasan beragama di Indonesia juga sangat salah dan fatal. Ungkapan bahwa “I have come to US so I can breath freedom” sesungguhnya adalah pelecehan kepada Indonesia.

Memang tanpa mengingkari adanya kasus-kasus yang pernah terjadi, Indonesia secara mendasar sangat memberikan ruang kebebasan kepada setiap pemeluk agama untuk meyakini dan menjalankan agamanya.

Saya selalu mengatakan bahwa sesungguhnya Indonesia masih syurga bagi teman-teman minoritas di negeri ini.

Selama bertanggung jawab sebagai bagian dari bangsa, menegakkan konstitusi dan menghargai eksistensi umat lain, anda bebas menjalankan agama masing-masing.

Pancasila dan UUD 45 menjadi acuan kuat, didukung oleh karakter kebangsaan yang memang memilki karakter toleransi yang historis.

Gesekan-gesekan yang terjadi di kemudian hari harusnya dilihat dari akar permasalahan yang sesungguhnya. Bukan karena karakter bangsa.

Bukan pula karena agama yang dianut oleh mayoritas bangsa ini, tetapi disebabkan oleh faktor lain yang akan disebutkan pada poin selanjutnya.

Ketiga, secara mendasar rasisme yang terjadi di Amerika dan Indonesia sangat berbeda. Jika dihubung-hubungkan rasanya sangat tidak adil dan tidak akan ketemu.

Rasisme di Amerika seperti yang pernah saya sampaikan lebih bersifat historis, bahkan mungkin tidak salah kalau saya istilahkan sebagai dosa asal bangsa tersebut.

Sementara Indonesia tidak memiliki sejarah rasisme itu. Malah justeru sejarah toleransi dan kerukunan yang diakui oleh semua pihak.

Selain itu rasisme Amerika jelas terjadi bukan karena ada penyebab lain, seperti “sosial jealousy” atau kecemburuan sosial akibat kesenjangan ekonomi.

Justeru pelaku rasis di Amerika adalah mereka yang fortunate (beruntung) dari masyarakat kalangan kelas atas.

Hal ini berbeda dengan kasus di Indonesia. Justeru adanya kasus-kasus, sebutlah rasisme kepada kelompok tertentu, disebabkan adanya sense of unfairness (rasa ketidakadilan) dalam masyarakat.

Bahwa adanya ketidakadilan perekonomian, di mana kelompok kecil justeru menguasai perekonomian negara dengan proporsi yang tidak sesuai menjadikan kelompok masyarakat mayoritas merasa terzholimi.

Kalaupun ada tendensi rasisme, atau minimal ketidaksenangan mayoritas di Indonesia terjadi bukan karena tabiat bangsa Indonesia yang sebenarnya. Apalagi dikait-kaitkan faktor agama.

Tetapi disebabkan oleh faktor lain yang menjadi pendorong. Contohnya gaktor hilangnya sense of justice (rasa keadilan di tengah masyarakat).

Namun rasisme di Amerika sekali lagi memang didorong oleh mentalitas penjajah (colonial mentality) orang kulit putih yang merasa lebih hebat dari warga lain yang berkulit non putih.

Di sinilah kesalahan fatal ketika seorang ingin menyamakan antara rasisme Amerika dan kasus rasisme di Indonesia. Tentu tidak sama. Jika menyamakannya merupakan kebodohan sekaligus pelecehan kepada bangsa dan negara Indoensia.

Saya hanya ingin sekali lagi mengatakan kepada semua anak bangsa, mari kita jaga nama baik bangsa kita. Tentu dengan tetap mengkritisi secara proporsional semua kekurangan yang ada. Kritis kepada bangsa dan negara seharusnya menjadi bagian dari sikap nasionalisme kita. Bukan justeru karena dorongan keinginan untuk melihat bangsa ini buruk dan terjatuh di mata dunia.

Belajarlah berterima kasih atau belajar tahu diri!

New York, 18 Juni 2020

* Penulis adalah Diaspora Indonesia di Kota New York

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here