85 WNI Deportasi dari Sabah, Korban Jasa Calo TKI Ilegal di Nunukan

0
27

Nunukan (BERANDATIMUR.COM) – Pada Kamis, 8 Agustus 2019 sekira pukul 17.00 waktu Indonesia bagian tengah (Wita) sebanyak 157 warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja secara ilegal di Negeri Sabah Malaysia kembali diusir oleh pemerintah negeri jiran ke Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara.

Pengusiran WNI tanpa dokumen keimigrasian atau TKI ilegal dipastikan akan terus berlangsung tanpa henti sepanjang tidak ada komitmen bersama nan tegas oleh aparat dan instansi terkait di Kabupaten Nunukan dan daerah asalnya.

Sebagaimana pernah diutarakan Konsul RI di Tawau Malaysia, Sulistiyo Djati Ismoyo kepada media ini bahwa pemberantasan TKI ilegal dapat dilakukan apabila daerah hilir dan Kabupaten Nunukan punya komitmen yang tegas.

Menurut Konsulat RI Tawau, TKI ilegal sulit diberantas apabila hanya mengharapkan Pemerintah Malaysia sebagai daerah hulu sekaligus pengguna jasa pekerja asing asal Indonesia.

Sebab majikan atau perusahaan di negara Malaysia masih “senang” memakai jasa pekerja asing tanpa dokumen terutama asal Indonesia. WNI dinilai rajin dan ulet bekerja di negeri jiran tersebut khususnya di perkebunan kelapa sawit dan sektor pertanian.

Masih maraknya penyeberangan WNI tanpa dokumen keimigrasian sampai sekarang oleh para calo di Kabupaten Nunukan menjadikan jumlahnya mencapai ratusan ribu orang yang masih bercokol di negeri jiran hingga saat ini.

Jumlah yang tak sedikit tersebut, WNI yang bekerja ilegal sehingga seringkali urung-uringan dengan aparat hukum Malaysia yang suka bertindak setengah hati dengan melakukan penangkapan tebang pilih lalu dipenjarakan sebelum diusir ke Indonesia.

TKI yang bekerja sebagai nelayan di Kampung Kambo Sandakan Negeri Sabah

Hasil tangkapan aparat hukum Malaysia itulah maka 85 WNI yang menjadi korban jasa calo TKI ilegal di Kabupaten Nunukan kali ini kembali diusir.

Melalui Pelabuhan Tunon Taka Kabupaten Nunukan, para TKI ilegal diangkut dari Pelabuhan Tawau menggunakan kapal angkutan resmi Mid East Ekspres didrop di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan kemarin sore.

Setibanya di pelabuhan itu, TKI usiran Pemerintah Malaysia ini dijemput oleh petugas Imigrasi Kelas II Nunukan lalu digiring ke terminal pelabuhan untuk didata, interview sebelum diserahkan ke Balai Pelayanan, Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI) Nunukan.

Data yang diperoleh dari Kantor Imigrasi Kelas II Nunukan melalui Kepala Seksi Pengawasan dan intelijen, Bimo Mardi Wibowo menyebutkan, pengusiran TKI ilegal berdasarkan Surat Kepala Perwakilan RI di Tawau-Malaysia Nomor 872/Kons/VIII/2019 tentang Deportasi 157 Orang WNI ke Nunukan

Terdiri dari 126 laki-laki,  21 perempuan,  lima anak laki-laki, lima anak perempuan dengan jenis kasus masing-masing 122 kasus keimigrasian, 32 kasus Narkoba dan tiga kasus kriminal lainnya.

Selanjutnya, Kantor Imigrasi Nunukan mencatat 134 kelahiran Indonesia dan
23 lahir di luar negeri.

Lalu Bimo menambahkan, dari 157 deportan tersebut diperoleh informasi bahwa 49 orang mengaku pernah memiliki paspor RI yang sudah habis masa tinggalnya. 108 orang tinggal ilegal atau bekerja ilegal dan tanpa dokumen keimigrasian yang sah.

Dari 108 orang yg tinggal secara ilegal tersebut seluruhnya mengaku keluar tanpa melalui pemeriksaan di tempat pemeriksaan imigrasi (TPI) di Pelabuhan Tunon Taka tetapi menyeberang ke Pulau Sebatik melalui Desa Bambangan dan menyeberang ke Tawau melalui Sei Nyamuk sebanyak 57 orang. 13 orang mengaku keluar lewat Aji Kuning juga di Pulau Sebatik dan 15 orang mengaku menyelinap di Sungai Bolong menuju negeri jiran.

Selain itu, 23 orang mengaku lahir dan atau sejak kecil tinggal atau dibawa orang tua ke Malaysia. Hasil interview petugas Imigrasi setempat, semuanya mengaku mengetahui jalur perlintasan non resmi tersebut dari keluarga dan kerabat sesama TKI.

Agar tidak melakukan penyeberangan melalui jalur “tikus” maka TKI usiran diberikan pengarahan tentang prosedur buruh migran Indonesia (BMI) prosedural dan aturan keimigrasian.

Deportan diberikan pula pemahaman soal tata cara menjaga ketertiban selama berada di Kabupaten Nunukan. (***)

Editor: M Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here