Anak Miskin Ini Gagal Wujudkan Impiannya Gara-gara Arogansi Sistim Zonasi

0
94
Sasmita Dewi alias Mita, salah seorang korban arogansi sistim zonasi PPDB 2019.

Nunukan (BERANDATIMUR.COM) – Sasmita Dewi lahir 2004 harus gigit jari gagal wujudkan impiannya gara-gara arogansi sistim zonasi pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMAN/SMKN 2019.

Meskipun nilai ujian nasionalnya tergolong tinggi yakni 20,3 dari empat mata pelajaran. Lulusan SMPN 2 Nunukan Selatan ini sejak awal bercita-cita melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri.

Namun apa boleh buat, impiannya terpaksa kandas akibat zonasi yang ditentukan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara melalui Dinas Pendidikannya.

Padahal putri ketiga dari pasangan Ponirin (40) dengan Misnawati (40) ini telah berusaha lolos di SMAN Nunukan Selatan. Tetapi zonasi yang menggiringnya lolos di SMKN Nunukan yang tak pernah diidamkannya.

Secara akademik, Mita panggilan Sasmita Dewi tergolong baik di sekolahnya. Seleksi “zonasi” yang meloloskannya di SMKN Nunukan harus dibatalkan karena jarak rumahnya di RT 07 Kelurahan Mansapa Kecamatan Nunukan Selatan dengan sekolah tersebut cukup jauh.

Ketika mengunjungi tempat tinggalnya Minggu, 14 Juli 2019, kondisi kehidupan kedua orangtuanya sangat memprihatinkan. Tidur dan makan minum pada sebuah gubuk kecil berukuran 3×4 meter harus dialaminya sejak enam bulan lalu.

Kedua orangtuanya yang berasal dari Kabupaten Pesisir Selatan Sumateta Barat ini tinggal bersama dua anaknya pada gubuk pinjaman tetangganya yang prihatin dengan kondisi hidupnya.

Gubuk ukuran 3×4 meter tempat tinggal Mita bersama kedua orangtua dan seorang adiknya di RT 07 Kelurahan Mansapa Kecamatan Nunukan Selatan

Sehari-harinya hidup dari hasil menjual sayur mayur yang ditanam sendiri pada lahan pinjaman. Menjual hasil dari bercocok tanam dengan menggunakan sepeda motor yang rongsokan juga dipinjamkan warga sekitarnya.

“Mita ini maunya dari awal sekolah di SMAN karena ketiadaan biaya. Tapi semuanya harus gagal karena tidak lolos di sekolah negeri,” ujar Ponirin, ayah Mita.

Ponirin menuturkan, Mita lolos di SMKN Nunukan cuma tidak mendaftar ulang karena sangat jauh. Dirinya tidak punya kendaraan untuk mengantar setiap hari.

Begitu pula dari tempat tinggalnya tidak ada angkutan (taksi). Kalaupun ada dipastikan tidak mampu membayar sewanya setiap bulan, kata Ponirin diiyakan istrinya yang duduk di dapur bersama Mita.

Ketiadaan biaya itulah yang menghantui Mita bersama kedua orangtuanya untuk menguburkan cita-citanya mengenyam pendidikan di sekolah negeri.

Bahkan Misnawati, ibu Mita mengaku sangat kecewa sistim zonasi yang diterapkan Dinas Pendidikan Kaltara karena tidak mempertimbangkan nilai akademik dalam PPDB 2019 ini.

Ibu setengah baya ini pun berharap kepedulian Presiden Jokowi agar anaknya masih bisa masuk di SMA Negeri yang menjadi cita-citanya.

“Saya sangat kecewa karena anak Mita tidak bisa diterima di SMA negeri. Saya sangat berharap pak Jokowi tau penderitaan kami dan Mita,” ujar dia.

Arogansi sistim zonasi yang diterapkan Pemprov Kaltara telah banyak memakan korban di Kabupaten Nunukan sebagai wilayah terluar, terpencil dan terkebelakang (3T).

Sementara Kementerian Pendidikan RI telah menginstruksikan agar pemerintah daerah provinsi tidak memaksakan penerapan sistim zonasi di wilayaj 3T.

Instruksi pemerintah pusat tersebut tak diindahkan menandakan arogansinya sehingga harus mengorbankan puluhan lulusan SMP di Pulau Nunukan.

Mita dibenarkan kedua orangtuanya, akan mendaftarkan diri di Madrasah Aliyah Al Ma’arif yang letaknya cukup dekat dari tempat tinggalnya.

Ponirin dan istrinya mengenang keberadaannya di Kabupaten Nunukan sejak dua tahun lalu. Awalnya, tinggal pada sebuah gubuk beratapkan daun rumbia dengan dinding dan lantai dari bambu. Ukurannya kurang lebih tempat tinggalnya sekarang.

Ketika hujan dia bersama istri dan kedua anaknya salah satunya Mita yang beranjak remaja harus bangun duduk menghindari basah kuyup.

Ponirin menceritakan, kala itu di kampung halamannya di Kabupaten Pesisir Selatan diajak oleh rekannya berangkat ke Kabupaten Nunukan. Tetapi rekannya tersebut meninggalkannya karena kembali di Sumatera Barat lagi.

Rekannya itu menjanjikan membuka lahan perkebunan untuk dimiliki. Namun kenyataan setelah tiba di Kabupaten Nunukan iming-iming tersebut tidak ada. Sementara telah kehabisan biaya untuk kembali ke kampung halamannya.

“Terpaksa kami tinggal saja pak disini karena tidak ada biaya untuk kembali ke kampung. Saya disini mencari pekerjaan buat makan minum dan biaya sekolah anak,” ujar Ponirin.

Awalnya ikut bekerja membersihkan tali rumput laut bersama istri dan kedua anaknya termasuk Mita. Hanya saja, pekerjaan itu ditinggalkan karena tangannya gatal-gatal dan melepuh.

Selepas dari pekerjaannya mencoba meminjam lahan orang lain untuk tanam sayur mayur. Alhasil, pekerjaan itu dilakoninya hingga sekarang dengan menanam mentimun, terung, cabai dan lain-lainnya.

Hasil tanaman inilah yang dijajankan ke perkampungan rumput laut di Kelurahan Mansapa dan Tanjung Harapan setiap harinya.

Ponirin mengatakan, tekadnya menjalani hidup meskipun tinggal di gubuk kecil bersama kedua anaknya tidak menyurutkan semangatnya demi pendidikan anak-anaknya.

“Saya tidak mau pendidikan anak-anak terlantar. Sekolah itu penting bagi kami meskipun hidup miskin,” tuturnya.

Ia juga mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah termasuk beras miskin. Apalagi penerima keluarga harapan (PKH), kartu Indonesia sehat (KIS) dan kartu Indonesia pintar (KIP).

Padahal telah terdaftar sebagai warga Kabupaten Nunukan sejak setahun lebih. (*)

Editor: M Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here