Berprilaku Buruk, Atlit Nasional Karateka Polman tak Naik Kelas

0
83

Polman (BERANDATIMUR.COM) – Atlit karateka nasional Kabupaten Polewali Mandar dan Sulawesi Barat tidak kelas di SMPN 3 Polewali Kabupaten Polman karena berprilaku buruk.

Sekaitan dengan kasus ini karena keluarganya keberatan maka sempat digulirkan pada rapat dengar pendapat di DPRD Polman.

Atlit ini bernama Arya Muddatsir (14) duduk di Kelas VIII ini menjadi perbincangan di Kabupaten Polman karena sskolahnya tidak menaikkan ke Kelas IX tahun ini.

Bersangkutan pernah meraih medali emas pada Kejuaraan Karateka di Surabaya Jawa Timur dan mewakili Provinsi Sulbar pada Olimpiade Olahraga Sains Nasional 2019.

Menanggapi hal ini, Ketua Komisi IV DPRD Polewali Mandar Abubakar Kadir mengundang seluruh pihak terkait untuk mendengarkan pendapatnya soal kasus Arya Muddatsir ini pada Senin, 8 Juli 2019.

Dengar pendapat dihadiri komite sekolah, kadis pendidikan dan kebudayaan, kepala sekolah dan wali kelasnya serta  Staf Ahli Bupati Polewali Mandar Sarja.

Kepala SMPN 3 Polewali, Syamsir menyampaikan ucapan terima kasih kepada Komisi IV DPRD setempat atas undangannya.

Ia mengatakan, semoga maksud dan tujuan dengar pendapat ini, tidak lain untuk menghasilkan keputusan paripurna untuk kualitas dan kemajuan pendidikan di Kabupaten Polewali Mandar.

Syamsir menyampaikan, perlunya memahami keputusan sekolah tidak menaikkan kelas bagi siswa bernama Arya Muddatzir.

“Secara administrasi di lapangan dan di kelas yang lebih mengetahui pasti keadaan siswa tersebut, adalah para guru dan wali kelas,” ujar dia.

Untuk lebih jelasnya, kata dia, harus mendengar keterangan dari wali kelas, guru BK dan guru yang mengajar di kelas Arya Muddatzir.

Wali Kelas Arya Muddasir, Dina Rahasia menyatakan dukungannya terhadap keputusan kepala sekolah dan semua guru mata pelajaran akibat sikap dan tingkah laku siswa bersangkutan idak mencerminkan anak berprestasi.

Bahkan sikap dan tingkah lakunya tetap sama dan tidak ada perubahan walaupun sudah sering disampaikan kepada kedua orangtuanya.

Begitu juga Basmani selaku guru BK yang membeberkan bukti pelanggaran dan tingkah laku siswa tersebut. Arya Muddatzir adalah tipe anak tidak mau mendengar nasehat.

Sesuai catatan BK SMPN 3 Polewali, siswa ini melakukan pelanggaran dengan 600 poin melampaui batas menimal 150 poin.

Dari hasil dengar pendapat tersebut, Sarja selaku Staf Ahli Bupati Polman tetap mendukung keputusan sekolah, bahkan mendorong untuk tetap menjaga kualitas peserta didik dan nama baik sekolah.

Sementara Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Polewali Mandar, Hj Andi Nursami MP menjelaskan kepala sekolah dan dewan guru sudah menjalankan aturan yang berlaku yaitu Permendiknas Nomor 23/2016 tentang Penilaian. Dimana kompetensi inti yang pertama dinilai adalah sikap dan tingkah laku siswa pada saat kenaikan kelas.

“Keputusan pihak sekolah sudah sesuai aturan. Untuk itu, mohon kiranya jangan saling menyalahkan,” ujar Andi Nursami MP.

Menurut dia, kejadian yang dialami Arya Muddatzir kiranya menjadi pelajaran berharga buat kita sebagai pendidik. Untuk tetap menjaga dan menjalankan amanah pendidikan nasional, serta orangtua siswa tetap menjaling komunikasi baik dengan pihak sekolah.

Sedangkan Ketua Komisi IV DPRD Polman, Abubakar Kadir mengatakan dukungannya agar tetap menjaga maruah dan kualitas pendidikan.

RDP yang digelar tersebut, kata dia, untuk mendapatkan masukan sebagai pertimbangan tentang kelangsungan pendidikan anak bersangkutan. (*)

Reporter: Almadar Fattah
Editor: M Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here