Maraknya Penyelundupan di Nunukan. Begini Tanggapan Yonif Raider 600/MDG

0
63
Nunukan (BERANDATIMUR.COM) – Maraknya penyelundupan bahan sandang dan orang dari dan ke Malaysia melalui pintu-pintu perbatasan ilegal di Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara tidak tersentuh sama sekali oleh aparat hukum berwenang.
Kehadiran prajurit penjaga perbatasan Batalion Infantri 600/Modang sebagai satuan tugas pengamanan perbatasan (satgas pamtas) diharapkan menjadi “penyelamat” kedaulatan negara di daerah itu.
Usai penyambutan kedatangan prajurit Yonif Raider 600/MDG di Pelabuhan Tunon Taka Kabupaten Nunukan, Mayor Inf Ronald Wahyudi selaku Komandan Satgas Pamtas menyatakan, tugas utama yang dibebankan oleh negara di wilayah perbatasan darat adalah mencegah terjadinya permasalahan yang bakal berdampak pada kedaulatan NKRI.
Oleh karena itu, tugas tersebut harus dijalankan dengan sebaik-baiknya sebagaimana instruksi pimpinan TNI AD kepada batalion yang menggantikan prajurit Batalion Infantri 613 Raja Alam ini.
Selanjutnya, lanjut jebolan Akmil 2000 ini mengatakan, penugasan utama lainnya yakni menjaga ketertiban dan keamanan bagi masyarakat khususnya di wilayah perbatasan Indonesia dengan Malaysia.
Kemudian, tentunya akan melanjutkan apa yang telah dikerjakan oleh Satgas Pamtas Yonif 613/Raja Alam selama 11 bulan bertugas di Kabupaten Nunukan.
Prajurit Yonif Raider 600/MDG siap ditugaskan di pos-pos perbatasan Indonesia-Malaysia dan menindak segala bentuk pelanggaran hukum seperti penyelundupan sandang dan orang di Kabupaten Nunukan.
Ia mengharapkan, kehadirannya di Kabupaten Nunukan sebagai satgas pamtas dapat diterima oleh masyarakat selama sembilan bulan bertugas menjaga pos-pos perbatasan.
“Kiranya masyarakat menerima kehadiran kami di Kabupaten Nunukan dan mengharapkan kerja sama semua pihak termasuk masyarakat dalam menjalankan tugas-tugas selama sembilan bulan ke depan,” harap Ronald W kepada awak media.
Menyinggung soal maraknya penyelundupan sandang dan orang akhir-akhirnya ini, dia katakan, prajurit Yonif 600/MDG siap menjadi penindak pertama pada titik-titik yang tidak ada instansi terkait.
Pada intinya, kata Rinald W, penegakan hukum terhadap pelanggaran perbatasan akan bekerja sama dengan instansi terkait termasuk penyelundupan bahan sandang dan orang untuk bekerja di Negeri Sabah Malaysia.
Komandan Satgas Pamtas Yonif Raider 600/MDG ini menegaskan, akan melakukan penindakan awal terhadap pelanggaran hukum di wilayah perbatasan dengan menjunjung tinggi kebersamaan dengan instansi lainnya. Seperti aparat kepolisian, imigrasi dan bea cukai selaku instansi yang memiliki kewenangan melakukan proses hukum pada tupoksi masing-masing.
Mengenai adanya kesan terjadi pembiaran penyelundupan sandang dan orang yang terus berlangsung tanpa adanya tindakan tegas dari instansi terkait berjanji akan menjadi bahan evaluasi awal bagi satuannya, tegas Komandan Batalion Infantri Raider yang bermarkas di Balikpapan Kalimantan Timur ini.
Meskipun telah mendapatkan informasi dari satgas-satgas pamtas sebelumnya terkait upaya penyelundupan dari dan ke negara tetangga Malaysia selama ini.
Bahkan dia mengharapkan, keberadaannya di Kabupaten Nunukan dapat meminimalisir upaya-upaya pembiaran oleh aparat hukum terhadap penyelundupan sandang dan orang tersebut dari dan ke Malaysia.
Meskipun tugas utamanya mencegah terjadinya permasalahan yang berkaitan dengan kedaulatan negara tetapi pelanggaran hukum di wilayah perbatasan tetap akan melakukan tindakan tegas atau penindak pertama.
“Jika tidak ada petugas atau instansi terkait di daerah-daerah terjadinya pelanggaran hukum maka kami dari Yonif Raider 600/MDG siap menjadi penindak pertama,” tandas dia.
Editor: M Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here