Penumpang Mudik Berjubel Hingga Atap Cafe KM Cattleya. Begini Alasan Syahbandar Nunukan

0
156

Nunukan (BERANDATIMUR.COM) – Keselamatan penumpang pada musim arus mudik lebaran Idul Fitri 1440 Hijriyah di Pelabuhan Tunon Taka Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara sebaiknya lebih diutamakan. Agar tidak terjadi kecelakaan selama pelayaran hingga tiba di kampung halamannya.

Pantauan arus mudik di Pelabuhan Tunon Taka pada H+13 Ramadhan 2019 Masehi tampak penumpang berjubel hingga atap cafe KM Cattleya sehingga mengancam keselamatannya.

Namun Kantor Syahbandar dan Otorita Pelabuhan (KSOP) Nunukan beralasan, keberadaan penumpang pada bagian atas kapal hanya sementara.

“Mungkin penumpang hanya naik untuk melihat turun ke dermaga pelabuhan saja. Tidak mungkin mau tidur di tempat itu,” ujar Plh Kepala KSOP Nunukan, Ahmad Kosasi di kantornya, Sabtu (18/5) sore.

Ia menekankan, pihaknya tetap mengutamakan keselamatan dalam pelayaran bagi penumpang khususnya pada arus mudik lebaran Idul Fitri 1440 H ini.

Buruh memgangkat barang milik TKI di depan xray bea cukai di Pelabuhan Tunon Taka Kabupaten Nunukan, Sabtu (18/5)

Sebagaimana standar keselamatan yang telah ditetapkan terhadap penumpang, dia tegaskan, menghindari adanya kejadian selama pelayaran.

Mengenai keberadaan puluhan penumpang yang berdiri di depan restoran KM Cattleya saat meninggal Pelabuhan Tunon Taka tidak mungkin dibiarkan oleh anak buah kapal tetap berada di atap cafe kapal tersebut.

Sebab memang pada tempat tersebut sangat tidak aman ditempati oleh penumpang selamanya dalam pelayaran, tandas Kosasi.

Pemberangkatan KM Cattleya menuju Pelabuhan Nusantara Parepare Sulsel lebih dipercepat dari jadwalnya untuk menghindari penambahan penumpang yang baru datang dari Tawau Negeri Sabah Malaysia.

Kosasi kembali menjamin, penumpang yang berada di atap cafe kapal tersebut dipastikan turun ke tempatnya.

Ia mengatakan, puluhan penumpang yang berada di atap cafe itu hanya naik untuk melepaskan kegerahannya. Sebab tempat tidurnya kemungkinan panas akibat banyaknya barang bawaan penumpang.

Penumpang tersebut bukan berarti melampaui kapasitas kapal karena manifesnya hanya tercatat 800 orang lebih.

Kosasi didampingi Kepala Sub Seksi Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli KSOP Nunukan, Ali Aminuddin Hamid mengakui, barang yang dimuat kapal milik PT Panca Merak itu melebihi ketentuan.

Hanya saja, kata keduanya, tidak bisa dihindari karena telah menjadi tradisi bagi TKI yang mudik lebaran umumnya membawa barang dalam jumlah besar.

Menyinggung kemungkinan adanya barang pedagang yang ikut diangkut, keduanya menjamin tidak ada. Karena KSOP setempat telah menginformasikan sebelumnya kepada pedagang agar menunda dulu pengiriman barang selama arus mudik lebaran ini.

Perkiraan, barang penumpang mudik terpaksa ditempatkan pada bagian kapal yang biasa dijadikan tempat tidur penumpang karena banyaknya barang dagangan milik pengusaha Nunukan yang dikirim ke Parepare.

Ia mengungkapkan, penumpang mudik lebaran menggunakan KM Cattleya kali ini hampir semua tenaga kerja Indonesia (TKI) dari Negeri Sabah Malaysia.

Secara nasional posko angkutan arus mudik lebaran Idul Fitri di Pelabuhan Tunon Taka Kabupaten Nunukan baru dimulai 21 Mei 2019.

Editor : M Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here