Puasa Membangun Keseimbangan (Kilas Ke-10 Ramadhan 1440 H)

0
66

Manusia itu menjadi manusia karena tiga elemen dasar penciptaannya yang menyatukan dalam bangunan hidupnya. Saya sebut ketiga elemen ini sebagai pilar hidup. Manusia tidak menjadi manusia kecuali ketiganya menyatu (integratif) dalam hidupnya.

Jika tidak, maka yang terjadi adalah seseorang nampak seperti manusia, tapi sejatinya mereka dalam karakternya berwujud lain. Boleh jadi mereka justeru berwujud “bagaikan hewan-hewan, bahkan lebih jahat dari hewan-hewan” (Al-Quran).

Ketiga Pilar hidup manusia itu adalah jasad, akal, dan ruh. Jasad dibentuk dari tanah liat (thiin), akal terbentuk dengan “ta’lim” (al-ilm), dan ruh dengan ditiupkannya ruh kesucian (nafkhur ruh).

Ketiganya menyatu secara integratif sebagai pilar kehidupan manusia dalam menjalani hidupnya.

Menyatunya ketiga pilar hidup dengan imbang (balance), menjadikan manusia sebagai ciptaan terbaik (ahsana taqwiim), bahkan menjadi makhluk yang termulia (karramna Bani Adam).

Karena posisi ini pula Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya sebagai simbol penghormatan dan pemuliaan.

Kelebihan-kelebihan itu juga yang menjadi dasar utama kenapa manusia menjadi makhluk yang dimuliakan. Bahkan berkat kesempurnaan komposisi ini pula, manusia diberikan tanggung jawab kekhilafahan.

Untuk bertanggungjawab suci dalam membangun dan memakmurkan bumi ini demi terwujudnya kehidupan yang aman, damai, makmur dan berkeadilan.

Islam agama alami 

Di sisi lain Islam sebagai agama yang sejalan dengan tabiat dasar penciptaan manusia, yang datang untuk menjadi petunjuk hidupnya, sejalan dan senyawa dengan ketiga pilar kehidupan manusia.

Islam tidak datang menjadi racun hidup, bahkan tidak pula menjadi penghalang bagi pengembangan ketiga pilar hidup itu.

Untuk kehidulan fisik (materi) manusia, Islam mewajibkan mencari dunia. Tidak seperti yang dipahami secara salah, seolah Islam anti dunia.

Tugas khilafah tadi itulah esensi dasar kenapa Islam memerintahkan manusia untuk membangun dunia ini.

Karena manusia sebagai “khalifah” (inni jaa’ilun fil-ardhi khalifah) wajib berusaha keras untuk mewujudkan bumi yang makmur, sejahtera dan damai demi terwujudnya rumah sementara manusia yang nyaman.

Untuk kehidupan akal manusia Islam mewajibkannya untuk menumbuhsuburkan pemikiran dan keilmuan.

Kata kedua yang paling sering terulang dalam Al-Quran setelah kata “Al-A’zhom” (Allah) adalah kata yang berkaitan dengan akal manusia. Ilmu, akal, fikir, tadabbur, dan semaknanya diulang di berbagai tempat dalam Al Quran.

Tentunya yang paling nyata adalah bahwa ayat pertama yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW adalah IQRA’ (bacalah).

Untuk kehidupan ruhiyah manusia, Allah sejak awal penciptannya maniupkan kesucian itu dalam dirinya. “Dan Kami tiupkan ke dalam diri manusia dari Ruhku”.

Ayat ini menggambarkan urgensi spiritualitas manusia, seolah Allah meniupkan ruhNya sendiri ke dalam diri manusia.

Untuk menopang kebutuhan ruhiyah ini, semua amalan dalam Islam, baik yang bersifat sosial, apalagi yang memang bersifat ritual, sarat dengan kandungan ruhiyahnya.

Misalnya makan dimulai dengan doa: “Wahai Tuhan berikanlah barokah pada makanan yang Engkau berikan kami dan barokah pada minum kami, dan jagalah kami dari api neraka”.

Permintaan “barokah” ketika makan menunjukkan bahwa pada makanan kita itu ada aspek ruhiyahnya. Bukan sekedar kelezatan materinya.

Apalagi memang amalan-amalan ritual. Sudah pasti ditujukan untuk menguatkan kehidupan ruhiyah manusia.

Sholat yang esensinya adalah “dzikir” atau mengingat Allah adalah amalan yang penuh dengan “spiritual nourishment” (makanan ruh).

Bahaya melemahnya ruhiyah

Ketika kehidupan ruhiyah termarjinalkan maka hidup manusia mengalami ketimpangan yang berbahaya. Hidup yang timpang melahirkan kebuasan prilaku. Bahkan lebih buas dari binatang buas sekalipun.

Di sinilah puasa menjadi sesuatu yang berharga mahal. Manusia bermujahadah mengembalikan hidupnya ke tabiat dasar itu karena berpuasa sehingga hidup imbang dalam tiga pilar tadi.

Melalui puasa juga, manusia mengesampingkan (menekan) sementara dorongan materinya, sehingga memberikan ruang kepada aspek ruhiyahnya untuk tumbuh subur kembali.

Sekali lagi, puasa Ramadhan merupakan pupuk yang menumbuh suburkan jiwa, sehingga nilai-nilai keilahian tumbuh kuat.

Melalui jiwa yang subur dengan nilai-nilai ilahiyah ini manusia akan menjaga keseimbangan hidupnya. Dengan keseimbangan hidup, prilaku manusia akan terbangun di atas kasih sayang, tenggang rasa, dan cinta. Semoga!
New York City, 15 Mei 2019

Ditulis oleh Imam Besar Masjid New York, Shamsi Ali (Presiden Nusantara Foundation).
Beliau berasal lahir dan besar di Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba Sulsel

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here