Bapak Menghilang, Bocah Ini Rela “Berhenti” Sekolah Demi Merawat Mamanya yang Terbaring Sakit

0
194

POLMAN (berandatimur.com) – Perasaan prihatin, kasihan, pilu, bangga dan salut bercampur aduk bagi siapa saja yang melihatnya.

Bocah berusia 13 tahun bersama adiknya usianya baru beranjak delapan tahun harus merawat mamanya yang terbaring karena penyakit tumor yang dideritanya..

Kedewasaan berpikir dan pelayanan ikhlas yang ditunjukkan bocah bernama Apriono dan adiknya bernama Rezki Aditya selama merawat mamanya yang sakit sejak tiga tahun lalu.

Tak ada yang pernah menyana, kedua bocah ini mampu merawat mamanya dari sakit parah di bagian kanan kepalanya.

Sementara bapak kandung telah menghilang tiba-tiba dari rumahnya di Dusun Rombo-Rombo Desa Riso Kecamatan Tapango Kabupaten Polman, sampai sekarang belum diketahui rimbanya.

Apriono (13) berfoto bersama teman sekolahnya di SMPN 3 Tapango Kabupaten Polman. Foto: Almadar Fattah

Melihat kondisi mamanya yanh semakin parah hanya mampu berbaring ditambah kondisi tubuh kian lemah dan kurus.

Apriono tidak tega meninggalkan mamanya sendiri di rumah, akhirnya memutuskan berhenti dari sekolah selama dua semester.

Mamanya bernama Rabiana (45) menderita sakit tumor sejak tiga tahun silam. Penyakit tersebut membuat tubuhnya makin lemas dan kurus sehingga hanya mampu terbaring.

Hidup di rumah berukuran kecil peninggalan bapaknya, Apriono dan adiknya Rezki Aditya merawat mamanya semampunya.

Keputusan Apriono berhenti sekolah karena harus mencari nafkah bagi mama dan adiknya.

Mengenang nasib kedua bocah ini, wajar jika mengharukan. Sangat sedih, karena mamanya harus hidup menjanda dalam keadaan sakit.

Apriono saat ini melanjutkan pendidikannya di Kelas VIII SMPN 3 Tapango atas kompensasi dan kebijakan dari pihak sekolah yang tidak mengeluarkannya saat berhenti selama satu tahun.

Karena kepala sekolah dan guru-guru di sekolahnya mengetahui sedang merawat dan mencari nafkah bagi mama dan adiknya yang baru Kelas II di kelas jauh SDN 044 Rombo-Rombo Desa Riso.

Sepulang dari mencari nafkah, Apriono harus memasak, mencuci pakaian mama dan mengawasi adiknya yang masih kecil itu.

Keteguhan jiwa dan kepatuhan serta ketulusan bocah ini merawat mamanya hingga mengurusi saat buang air besar patut ditiru.

Apriono menceritakan nasib yang tak disesalinya bahwa saat dirinya terpaksa meninggalkan mamanya di rumah karena mencari nafkah dan kebutuhan dapur lainnya seperti kayu bakar maka sang adik yang menjaganya.

Bocah ini mengaku, biaya hidup bagi mama dan adiknya diperoleh dari banting tulang membantu tetangga mengumpulkan biji kakao di kebun dengan imbalan Rp10.000 sampai Rp20.000.

“Kalau saya pergi ambil kayu bakar atau bantu orang kumpulkan coklat (kakao) adek ku yang jaga mama,” ujarnya polos.

Sebuah lembaga sosial memberikan bantuan kesehatan kepada Rabiana (45) mama Apriono yang menderita tumor di kepala.
Foto: Almadar Fattah

Ia pun menuturkan, beban dan tanggungjawab yang harus dipikul mencari nafkah dan merawat mamanya tetap dijalani dengan tulus ikhlas. Karena tidak ada lagi bapak, belum pernah kembali sejak pergi.

Apriono pun mengatakan, kala tak ada pekerjaan di rumahnya memanfaatkan belajar sekaligus mengajari adiknya.

Sebenarnya, Apriono tiga bersaudara termasuk seorang kakaknya. Tetapi sang kakak ini merantau ke kota menjadi buruh bangunan demi biaya hidup dan perawatan mamanya.

Apriono bilang, kakaknya jarang pulang ke rumah makanya dirinya yang harus bertanggungjawab menjaga dan merawat mama dan adiknya.

Menurut Apriono, penyakit mamanya telah pernah diobat secara medis. Namun diagnosanya diketahui penyakit tumor ganas yang tak mungkin bisa diangkat.

Hasil analisa medis, penyakit tumor telah mengakar di sekeliling kepala mamanya. Jalan satu-satu hanya berobat alternatif saja. (*)

Penulis : Almadar Fattah
Editor : M Rusman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here