Doc ilusrrasi

NUNUKAN (berandatimur.com) – Panas matahari di Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara sangat menyengat kulit seperti suhu udara berkisar 35 derajat. Namun BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) setempat mengakui penyebabnya banyak faktor.

Melalui Prakirawan BMKG Nunukan, Muhammad Taufik, Rabu (20/2) menuturkan, memang cuaca tampak sangat panas dengan suhu udara yang ekstrim.

Namun hasil pengamatan melalui satelit, suhu udara tetap pada posisi biasa alias normal yakni maksimal 32 derajat celcius pada siang hari sebagaimana kondisi cuaca Kabupaten Nunukan pada waktu-waktu sebelumnya.

Mengenai suhu udara yang dianggap sangat menyengat tersebut dia akui karena banyak faktor diantaranya kurangnya pembentukan awan. Akibatnya sinar matahari langsung ke bumi tanpa ada yang halangi.

Kemudian, kurangnya pembentukan awan ini disebabkan hembusan angin yang kencang yang membawa tunas-tunas awan.

Taufik juga mengatakan, panas matahari yang berlangsung saat ini lebih utama disebabkan oleh selisih tekanan udara kutub utara dan kutub selatan berbeda cukup jauh.

Hal ini disebabkan, matahari berada pas titik nol garis khatulistiwa sehingga angin dari kutub selatan berhembus kencang yang membawa hawa panas.

Kabupaten Nunukan yang terletak di kutub utara tentunya menerima dampak tersebut dimana hawa dan suhu udara terkesan panas menyengat. Padahal suhu udara tetap normal seperti biasanya.

Ia menegaskan, posisi equator inilah yang menyebabkan suhu udara terasa menyengat pada siang hari hingga malam hari pada bulan Februari 2019 ini.

“Hembusan angin yang kencang juga terjadi dari kutub selatan menuju kutub utara dengan membawa suhu panas makanya terasa panas sekali,” ujar Taufik fi Nunukan.

– Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan

Sepanjang bulan Februari 2019 ini, Kabupaten Nunukan rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Oleh karena itu, BMKG Nunukan meminta lebih waspada karena telah ditemukan sejumlah titik api (hotspot) akhir-akhir ini.

Mengenai kerawanan terjadi kathutla ini telah disampaikan kepada pemda pada pertemuan beberapa waktu lalu di Kantor Bupati Nunukan.

Taufik juga mengatakan, musim kering di Kabupaten Nunukan yang berlangsung setiap bulan Februari hingga minggu ketiga Maret telah menjadi tradisi sejak 10 tahun terakhir.

Ia tekankan, iklim di daerah ini berbeda jauh dengan daerah lainnya di Indonesia. Kemungkinan adanya pengaruh letak geografis yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Musim hujan di Kabupaten Nunukan berlangsung pada Juni dan September sedangkan daerah lainnya berlangsung pada Agustus hingga Desember.

Jadi, kata dia, sebenarnya Kabupaten Nunukan tidak mengenal istilah musim karena kadangkala memasuki musim hujan malah panas matahari cukup lama.

Taufik menambahkan, musim kering pada bulan Februari ini sangat rawan terjadinya kebakaran lahan baik disengaja maupun tidak disengaja.

Namun lebih penting adalah mewaspadai kebakaran permukiman padat penduduk yang sulit akses masuk bagi kendaraan pemadam.

Sehubungan dengan potensi ini, dia katakan, telah dikoordinasikan dan diingatkan kepada pemda setempat agar lebih waspada dan melakukan langkah antisipasi terjadinya kebakaran lahan dan permukiman. (***)

Penulis: M Rusman

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here